SEJARAH

Sejarah Desa Pringtutul di Kebumen, Apa Hubunganya dengan Mbah Kunting dan Harimau Penjaga Keturunan

474
×

Sejarah Desa Pringtutul di Kebumen, Apa Hubunganya dengan Mbah Kunting dan Harimau Penjaga Keturunan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik tenangnya suasana pedesaan, Desa Pringtutul Kecamatan Rowokele Kabupaten Kebumen menyimpan kisah lama yang hingga kini masih diceritakan dari generasi ke generasi. Cerita itu berkisah tentang seorang tokoh sakti bernama Mbah Kunting, yang dipercaya sebagai salah satu prajurit dari pasukan Pangeran Diponegoro.

Menurut cerita masyarakat setempat, Mbah Kunting dikenal sebagai sosok pemberani sekaligus berhati lembut. Suatu hari ia menemukan seekor anak harimau yang terperosok di tepian sungai dan hampir hanyut terbawa arus deras. Tanpa ragu, ia menyelamatkan anak harimau tersebut lalu membawanya pulang untuk dirawat.

Sejak saat itu, kehidupan Mbah Kunting berubah. Saat anak harimau tersebut dipelihara, ia sering menemukan hewan buruan seperti rusa, kelinci, dan binatang lainnya tergeletak di sekitar rumahnya. Merasa heran, Mbah Kunting mencoba mengamati dari kejauhan.

Benar saja, hewan-hewan buruan itu ternyata dibawa oleh seekor harimau dewasa yang diduga induk dari anak harimau yang ia selamatkan. Warga percaya, itu adalah bentuk rasa terima kasih sang induk karena anaknya telah diselamatkan dan dirawat.

Waktu berlalu, anak harimau tersebut tumbuh menjadi harimau dewasa. Karena sejak kecil hidup di lingkungan manusia, harimau itu menjadi jinak dan seolah memahami bahasa tubuh manusia. Bahkan ia sering bermain dengan anak dan cucu Mbah Kunting.

Namun sebuah peristiwa tragis terjadi.

Suatu hari Mbah Kunting harus pergi bekerja dan berpesan kepada harimau peliharaannya untuk menjaga cucunya. Saat bermain di sekitar rumah, tanpa disadari cucu Mbah Kunting terpeleset hingga jatuh ke sungai. Harimau itu berusaha menolong dengan menarik tubuh sang cucu keluar dari air. Sayangnya, kuku tajam harimau justru melukai perut sang anak hingga akhirnya meninggal dunia.

Kabar duka itu segera sampai ke telinga Mbah Kunting. Ia bergegas pulang dan mendapati cucunya telah terbujur kaku bersimbah darah. Tangisnya pecah. Dalam amarah dan kesedihan, sempat terlintas keinginan untuk membunuh harimau tersebut. Namun niat itu akhirnya ia urungkan.

Mbah Kunting dipercaya memahami bahwa kejadian itu adalah sebuah kecelakaan.

Saat prosesi pemakaman cucunya, Mbah Kunting menyampaikan pesan kepada harimau itu. Ia mengaku telah ikhlas atas kepergian cucunya, namun meminta agar harimau tersebut tetap menjaga dan melindungi anak cucu serta seluruh keturunannya kelak.

Makam cucu Mbah Kunting kemudian ditandai dengan tongkat dari kayu jati. Seiring waktu, tongkat itu tumbuh menjadi pohon jati besar yang hingga kini dikenal warga dengan sebutan Jati Dampit.

Menurut kepercayaan masyarakat, setiap bulan Sura sering muncul sosok harimau yang mendatangi keturunan Mbah Kunting. Warga meyakini harimau itu adalah penjaga yang dahulu dipelihara oleh Mbah Kunting.

Sementara itu, Mbah Kunting sendiri dimakamkan tidak jauh dari makam cucunya di kawasan Jati Dampit. Konon, pohon Jati Dampit pernah patah dan sebagian kayunya dijadikan kentongan di Balai Desa. Pada masa lalu, kentongan tersebut digunakan untuk memanggil para pamong desa karena suaranya mampu terdengar hingga ratusan meter.

Hingga kini kisah Mbah Kunting dan harimau penjaga itu masih hidup dalam cerita masyarakat Desa Pringtutul. Bagi sebagian warga, legenda tersebut bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian dari sejarah dan kearifan lokal yang terus dijaga.

Sumber : https://pringtutul.kec-rowokele.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/97


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.