KEBUMEN, Kebumen24.com — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen mencuri perhatian nasional. Lembaga pemasyarakatan ini menjalin kolaborasi strategis dengan Agromina, UMKM asal Kebumen yang sukses menembus 10 besar nasional Program Pertapreneur Aggregator Pertamina dari lebih 1.700 peserta se-Indonesia.
Kolaborasi berbasis pemberdayaan ini mendapat kunjungan langsung dari Asesor Program Pertapreneur Aggregator Pertamina, Imam Subhan dan Hamid Bima, pada Senin (26/1/2026). Kunjungan tersebut bertujuan memastikan konsistensi pelaksanaan bisnis sekaligus mengukur dampak sosial yang dihasilkan dari kerja sama Rutan Kebumen dan Agromina.
Agromina menggandeng Rutan Kebumen dalam pengembangan usaha pengolahan serat pelepah pisang, dengan melibatkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui pelatihan dan produksi berbasis keterampilan. Program ini dinilai sejalan dengan prinsip bisnis berkelanjutan yang menjadi fokus utama Pertamina.
“Hari ini kami hadir karena salah satu peserta Pertapreneur Aggregator Pertamina, yakni Agromina, bekerja sama dengan Rutan Kebumen. Kami ingin memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tidak hanya berorientasi keuntungan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata,” ujar Imam Subhan.
Ia menegaskan bahwa paradigma bisnis saat ini telah mengalami pergeseran. Keberhasilan usaha tidak lagi diukur dari profit semata, melainkan juga dari kontribusi sosial dan keberlanjutan ekonomi.
“Bisnis hari ini tidak cukup hanya untung, tetapi harus berdampak. Karena itu kami ingin melihat langsung bagaimana implementasi program ini, termasuk komitmen dari pihak Rutan sebagai mitra strategis,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa tim asesor memiliki tugas memastikan setiap peserta program menjalankan Business Improvement Plan (BIP) secara konsisten, dengan pendampingan intensif selama enam bulan.
“Tujuan utama kami adalah memastikan Agromina, sebagai UMKM 10 besar nasional, benar-benar menjalankan perencanaan bisnisnya secara berkelanjutan. Proses pendampingan akan berlangsung selama enam bulan penuh,” jelasnya.
Sementara itu, asesor lainnya, Hamid Bima, menilai kolaborasi Agromina dan Rutan Kebumen sebagai langkah strategis, khususnya dalam menjaga kesinambungan produksi dan ketersediaan bahan baku.
“Kolaborasi ini sangat penting sebagai penyangga bahan baku sekaligus produk. Saya cukup terkejut sekaligus mengapresiasi, karena sinergi antara institusi pemasyarakatan dan pelaku bisnis seperti ini sangat potensial. Bahkan hasilnya bisa mulai terlihat dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” ungkapnya.
Hamid menambahkan, meski kerja sama ini masih tergolong baru secara teknis, namun perencanaan dan komunikasi telah dilakukan sebelumnya. Pendampingan ke depan akan difokuskan pada peningkatan standar kualitas dan ketepatan waktu produksi.
“Dalam dunia bisnis, kualitas dan ketepatan waktu tidak bisa ditawar. Ini yang akan terus kami kawal bersama Agromina dan Rutan Kebumen,” tegasnya.
Diketahui, Agromina merupakan satu dari 10 UMKM terbaik nasional yang lolos seleksi ketat dari lebih 1.700 UMKM di seluruh Indonesia. Dari Jawa Tengah, hanya dua UMKM yang berhasil menembus tahap final, yakni Abon Sapi Cap Koki (Purbalingga) dan Agromina (Kebumen).
Program Pertapreneur Aggregator Pertamina sendiri merupakan bagian dari ekosistem pembinaan UMKM yang dikembangkan Pertamina untuk mendorong pelaku usaha naik kelas, berdaya saing, serta memberikan dampak sosial yang luas bagi masyarakat.
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyampaikan bahwa upaya pembinaan kemandirian WBP terus menunjukkan perkembangan positif. Meski baru berjalan beberapa hari, program pengolahan serat pelepah pisang dinilai memiliki prospek bisnis dan dampak sosial yang menjanjikan.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut kerja sama antara Rutan Kelas IIB Kebumen, Inotex Foundation, dan PT Agrominafiber Jawa Indonesia, yang didukung oleh program Sampoerna Untuk Indonesia.
“Bismillah, Alhamdulillahirrahmanirrahim. Meski kerja sama ini belum genap satu bulan, laporan dari jajaran menunjukkan respons yang sangat positif. Bahkan dari pihak Agromina menilai prospeknya sangat baik, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial,” ujar Pramu Sapta.
Menurutnya, keseriusan mitra ditunjukkan dengan kehadiran asesor yang membawa dukungan Pertamina guna memastikan program berjalan sesuai standar dan berkelanjutan.
“Kami berharap program ini tidak hanya berdampak selama warga binaan menjalani masa pidana, tetapi juga menjadi bekal keterampilan saat mereka kembali ke masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Agrominafiber Jawa Indonesia, Profita Hermawan, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekonomi tinggi yang berorientasi pasar global.
“Serat pelepah pisang memiliki potensi besar untuk produk kerajinan dan material ramah lingkungan yang diminati pasar ekspor. Kami ingin warga binaan terlibat langsung dalam rantai produksi global,” jelasnya.
Pada tahap awal, Rutan Kebumen melakukan asesmen ketat terhadap WBP yang terlibat, berdasarkan perilaku, jenis perkara, serta kesiapan mengikuti program, guna menjaga kualitas dan keberlanjutan kegiatan.
“Ke depan, kami berharap semakin banyak warga binaan yang tertarik dan aktif, sehingga memiliki keterampilan yang bisa dimanfaatkan setelah bebas nanti,” pungkas Pramu Sapta.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















