KEBUMEN, Kebumen24.com — Nuansa kritik sosial dan kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan mengalir kuat dalam pementasan drama yang digelar mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBSI) Semester V Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen, Rabu (13/1/2016). Sekitar 100 penonton memadati ruang pertunjukan dan larut dalam kisah-kisah yang disajikan dengan penghayatan mendalam serta visual yang memukau.
Pementasan ini merupakan implementasi dari mata kuliah Drama yang diampu Muchlas Abror, M.A. dan Arum Yuliya Lestari, M.Pd. Dua karya besar sastra Indonesia dihadirkan dalam satu panggung, yakni RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang dan Orang-Orang di Tikungan Jalan karya W.S. Rendra. Kedua naskah tersebut dipilih karena kuat merepresentasikan realitas sosial, mulai dari ketimpangan, keterasingan manusia, hingga kritik terhadap sistem yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil.
Melalui seni peran, dialog, dan ekspresi panggung, mahasiswa PBSI UMNU Kebumen berhasil menghidupkan konflik-konflik sosial tersebut menjadi sajian yang reflektif. Pementasan ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang perenungan bagi penonton tentang potret masyarakat yang masih relevan dengan kondisi hari ini.
Atmosfer pertunjukan semakin kuat dengan tata panggung yang tertata rapi serta permainan tata cahaya yang mempertegas emosi dan dinamika setiap adegan. Setiap transisi berjalan hidup, membawa penonton menyelami suasana getir, haru, sekaligus kritik sosial yang tajam.
Muchlas Abror, M.A., selaku dosen pengampu mata kuliah Drama sekaligus Kaprodi PBSI UMNU Kebumen, menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan para mahasiswa.
“Kegiatan ini akan menjadi pijakan awal bagi angkatan-angkatan berikutnya. PBSI UMNU Kebumen tidak hanya ingin melahirkan lulusan yang memahami bahasa, sastra, dan budaya secara teoritis, tetapi juga mahasiswa yang memiliki keterampilan kebahasaan dan kesastraan yang nyata dan teruji,” ujarnya.
Sementara itu, Arum Yuliya Lestari, M.Pd., menegaskan bahwa pementasan drama merupakan salah satu strategi efektif untuk menumbuhkan kecintaan dan pemahaman mendalam terhadap sastra.
“Sastra tidak cukup hanya dibaca dan dianalisis. Ia harus dihidupkan. Melalui panggung, mahasiswa belajar menafsirkan, merasakan, dan mengekspresikan makna karya sastra secara utuh,” tuturnya.
Bagi mahasiswa, pementasan ini bukan sekadar tugas akademik. Proses panjang mulai dari pembacaan naskah, latihan, penyutradaraan, akting, hingga pengelolaan panggung menjadi ruang pembelajaran yang komprehensif.
Torik, sutradara Orang-Orang di Tikungan Jalan, menyebut pementasan ini sebagai tonggak penting bagi mahasiswa PBSI UMNU Kebumen.
“Walaupun ini merupakan output mata kuliah, bagi kami ini lebih dari sekadar nilai. Ini adalah pengalaman dan sejarah baru bagi mahasiswa PBSI UMNU Kebumen,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Restu, sutradara RT Nol RW Nol, yang mengaku bangga menjadi bagian dari PBSI UMNU Kebumen.
“Kami berharap ke depan pementasan seperti ini bisa digelar lebih besar, lebih matang, dan lebih berdampak,” katanya.
Pementasan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh pemain, kru, dosen pembimbing, dan penonton. Momen ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus keberhasilan mahasiswa dalam menghadirkan sastra ke ruang publik melalui panggung. Ke depan, kegiatan semacam ini diharapkan menjadi agenda rutin Prodi PBSI UMNU Kebumen agar sastra tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga tumbuh sebagai praktik budaya yang menyentuh dan bermakna.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






















