SEJARAHWisata

Restorasi Jembatan Tembana Kebumen Dimulai, TACB Fokus Perawatan Struktur dan Pengembalian Wajah Asli

1813
×

Restorasi Jembatan Tembana Kebumen Dimulai, TACB Fokus Perawatan Struktur dan Pengembalian Wajah Asli

Sebarkan artikel ini
Jembatan Tembana dicat ulang berwarna putih untuk mengembalikan tampilan visual aslinya sesuai dokumentasi sejarah.

KEBUMEN, Kebumen24.com – Upaya pelestarian warisan sejarah kembali diwujudkan melalui dimulainya restorasi Jembatan Tembana, salah satu ikon Cagar Budaya di Kabupaten Kebumen. Restorasi ini menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan struktur jembatan bersejarah dari ancaman kerusakan jangka panjang, sekaligus menjaga keaslian nilai sejarah yang telah melekat sejak dibangun pada abad ke-19.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen, Dr. Ir. Chusni Ansori, M.T., menjelaskan fokus awal restorasi diarahkan pada bagian bawah bangunan jembatan. Tahapan ini meliputi pembersihan tanaman liar serta akar pohon beringin yang telah menembus susunan batu. Keberadaan akar tersebut dinilai berpotensi merusak ikatan antar batu dan melemahkan struktur lengkung jembatan yang menjadi ciri khas arsitektur Jembatan Tembana.

“Jika dibiarkan, akar pohon dapat menggeser dan merusak susunan batu, sehingga membahayakan keutuhan struktur jembatan dalam jangka panjang,” jelasnya dalam keterangan resminya, Senin 22 Desember 2025.

Tahap berikutnya dilakukan melalui pengecatan berwarna putih sebagai upaya mengembalikan tampilan visual Jembatan Tembana sesuai dengan wujud aslinya. Pemilihan warna putih merujuk pada dokumentasi foto lama yang menunjukkan kondisi jembatan saat pertama kali dibangun sekitar tahun 1871. Pada masa itu, Jembatan Tembana menampilkan karakter arsitektur kolonial akhir abad ke-19 dengan lengkungan tegas dan warna putih polos yang khas.

Pengecatan ini ditegaskan bukan sebagai bentuk perubahan, melainkan bagian dari rekonstruksi visual historis agar identitas awal jembatan kembali terbaca dan dikenali oleh masyarakat. Selain memperkuat nilai estetika, pengecatan juga berfungsi secara teknis untuk menghambat pertumbuhan lumut dan tanaman liar, menjaga permukaan struktur tetap bersih, serta memudahkan pemantauan kondisi bangunan.

Dalam catatan sejarahnya, Jembatan Tembana sempat mengalami kerusakan akibat Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948. Pemerintah Indonesia kemudian melakukan perbaikan pada periode 1951–1952 dengan melibatkan sekitar 600 pekerja, menangani bentang jembatan sepanjang kurang lebih 34 meter. Struktur bawah jembatan yang disusun dari batu kali ekspose pada masa itu hingga kini tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari konstruksi sekaligus lapisan sejarah bangunan.

Sebagai penguatan pemaknaan publik, restorasi juga dilengkapi dengan branding Cagar Budaya melalui pemasangan huruf menyala dan lampu sorot. Sistem pencahayaan dirancang secara proporsional untuk menonjolkan keindahan arsitektur jembatan tanpa mengganggu keaslian struktur, sekaligus mempertegas identitas Jembatan Tembana sebagai ikon Cagar Budaya Kebumen.

Tak hanya itu, akan dipasang Totem penanda “TEMBANA VIEW” serta Papan Interpretasi di kawasan Spot Ndalem Singo, yang dikenal sebagai titik terbaik menikmati eksotisme Jembatan Tembana dan aliran Sungai Luk Ulo. Melalui papan interpretasi tersebut, pengunjung diajak tidak hanya menikmati keindahan visual, tetapi juga memahami nilai sejarah, arsitektur, serta makna penting Jembatan Tembana secara utuh.

Restorasi ini digagas oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kebumen serta Pemerintah Desa Kutosari. Kolaborasi lintas pihak ini diharapkan mampu memastikan perawatan Jembatan Tembana berlangsung berkelanjutan, sehingga jembatan bersejarah tersebut tidak hanya lestari secara fisik, tetapi juga hidup dalam kesadaran dan kebanggaan masyarakat Kebumen.(K24/*)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.