PERISTIWA

Petani 80 Tahun Tewas Tertemper KA Argo Semeru di Buayan, Polisi Ingatkan Bahaya Lintasan Tanpa Palang

1039
×

Petani 80 Tahun Tewas Tertemper KA Argo Semeru di Buayan, Polisi Ingatkan Bahaya Lintasan Tanpa Palang

Sebarkan artikel ini
Proses olah TKP oleh Tim Inafis Polres Kebumen di jalur rel Km 426+6/7, tempat korban tertemper KA Argo Semeru.

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sebuah kecelakaan tragis terjadi di lintasan kereta tanpa palang pintu di wilayah Desa Jatiroto, Kecamatan Buayan, Sabtu siang (15/11/2025). Seorang petani lanjut usia, Dul Samid (80), warga Dukuh Combong, Desa Jogomulyo, tewas tertemper Kereta Api Argo Semeru saat melintas di Km 426+6/7 jalur Ijo–Gombong, sekitar pukul 11.20 WIB.

Peristiwa nahas itu bermula saat korban menyeberang rel dari arah utara ke selatan. Pada saat yang bersamaan, KA Argo Semeru jurusan Gambir–Surabaya Gubeng, yang dikemudikan masinis Sukirno, melaju dari arah barat di jalur 1 dengan kecepatan tinggi. Benturan pun tak terelakkan.

Akibat kerasnya benturan, tubuh Dul Samid terpental hingga sekitar 20 meter ke sisi selatan rel. Tim gabungan dari Polres Kebumen, Polsek Buayan, Pamapta Polres Kebumen, Inafis, Pos Lantas Kretek, Babinsa, Puskesmas Buayan, perangkat desa, dan petugas perkeretaapian segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP dan evakuasi.

Korban kemudian dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Gombong. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan luka berat yang menyebabkan korban meninggal dunia di tempat kejadian.

“Kami turut berduka atas kejadian itu. Kerasnya benturan membuat korban meninggal di lokasi kejadian,” ujar Kapolres Kebumen AKBP Eka Baasith Syamsuri melalui Wakapolres Kompol Faris Budiman.

Dua saksi di lokasi, Sukino (58) dan Agus Wahyudi (38), menguatkan bahwa korban menyeberang tanpa memastikan kondisi rel aman. Polisi menyebut hasil pemeriksaan awal menunjukkan unsur kelalaian dari korban, namun penyelidikan tetap dilanjutkan untuk memastikan tidak ada faktor lain.

Wakapolres Kebumen Kompol Faris Budiman mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, terutama di lintasan kereta tanpa palang pintu.

“Lintasan tanpa palang memiliki risiko tinggi. Masyarakat harus benar-benar memastikan jalur aman sebelum menyeberang,” tegasnya.

Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya kewaspadaan di jalur kereta, terutama di wilayah pedesaan yang belum dilengkapi fasilitas keselamatan memadai.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.