KEBUMEN, Kebumen24.com – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kebumen yang akan digelar pada 30 Agustus 2025, dinamika internal partai berlambang pohon beringin ini semakin memanas. Sejumlah Pengurus Kecamatan (PK) terpecah ke dalam dua kubu, mendukung kandidat berbeda untuk memperebutkan kursi Ketua DPD Golkar Kebumen.
Pertarungan memanas terjadi antara dua kandidat, H Pawit Mandung dan Ratna Yulianti. Isu panas pun muncul, mulai dari dugaan campur tangan petinggi DPD hingga indikasi praktik money politic, yang ikut mewarnai suasana menjelang hajatan politik lima tahunan ini.
Wibisono Susanto, Pengurus Kecamatan Golkar Bonorowo, menilai perpecahan internal ini menjadi kerugian bagi partai. Ia menyoroti minimnya keterlibatan PK dalam persiapan Musda.
“Kondisinya sekarang internal jelas pecah menjadi dua kubu. PK tidak dilibatkan secara aktif, bahkan mekanisme pencalonan pun tidak jelas. Terlihat ada intervensi dari petinggi DPD untuk memenangkan salah satu kandidat,” tegas Wibisono saat ditemui di Rumah Makan Yunani, Sruweng, Kamis (14/8/2025).
Menurut Wibisono, mayoritas PK sejak awal mendukung H Pawit Mandung. Namun dukungan mulai bergeser akibat adanya pengaruh dari luar PK.
“Pak Mandung dikorbankan. Kami tidak terima. Kami tetap ingin beliau menjadi Ketua DPD Golkar Kebumen di periode ini,” ujarnya.
Sementara itu, H Pawit Mandung menegaskan akan tetap bertarung di arena Musda. Ia menekankan pentingnya persaingan yang sehat dan proses yang transparan.
“Kalau Bu Ratna mau maju, silakan. Kita bertarung secara sehat. Yang penting demokrasi berjalan lancar,” kata Mandung.
Mandung juga menyentil kinerja partai, menilai hilangnya kursi pimpinan DPRD Kebumen dari tangan Golkar menjadi bukti penurunan kekuatan politik yang harus diperbaiki.
“Kursi Golkar di DPRD berkurang 50 persen. Ini fakta kegagalan yang tidak bisa diabaikan. Harus ada perbaikan bersama,” tegasnya.(K24/*)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















