SEJARAH

Punden Berundak, Inilah 3 Fakta Unik Makam Kuno di Watulawang Kebumen

1763
×

Punden Berundak, Inilah 3 Fakta Unik Makam Kuno di Watulawang Kebumen

Sebarkan artikel ini
Tampak dari atas, kompleks Makam Mbah Kuwu di Desa Watulawang membentuk struktur bertingkat layaknya punden berundak, dikelilingi rimbun pepohonan hijau. (Sumber: YouTube Tedhong Telu)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Kabupaten Kebumen kembali menyuguhkan kekayaan budaya dan sejarahnya. Kali ini, sebuah makam kuno di Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, mencuri perhatian karena bentuknya yang tak biasa. Dari ketinggian, kompleks makam ini terlihat mirip punden berundak, warisan tradisi megalitik Nusantara.

Tak hanya bentuknya yang unik, hampir setiap makam di sana terlindungi oleh bangunan kecil beratap genteng—sepintas tampak seperti deretan rumah-rumah mungil di lereng bukit. Masyarakat sekitar menyebut kompleks ini sebagai Makam Mbah Kuwu Watulawang, yang diyakini sebagai tokoh penting dan leluhur desa setempat.

Berikut tiga fakta unik tentang makam kuno yang eksotis ini:

  1. Struktur Berundak di Lereng Bukit

Makam ini dibangun mengikuti kontur bukit, membentuk struktur bertingkat atau berundak. Bu Yati, salah satu warga setempat, menyebut bahwa makam di tingkat paling atas diperuntukkan bagi Mbah Kuwu dan keluarganya.

“Ini yang kemarin baru dibangun,” ujarnya sambil menunjuk bangunan baru hasil renovasi makam utama yang masih tampak segar dengan kayu jati muda.

Sementara itu, makam-makam di tingkat bawah menjadi area pemakaman umum, tetapi tetap memiliki keunikan: hampir seluruhnya dilindungi oleh atap.

  1. Kijing dari Kayu Jati & Tradisi Mistis
Salah satu makam beratap genteng dengan kijing kayu jati di bagian bawah kompleks. Nuansa spiritual kian terasa dengan kehadiran tempat dupa di sisi makam. (Dok. Merdeka.com)

Tak hanya dilindungi genteng, sebagian besar nisan atau kijing di kompleks ini terbuat dari kayu jati, bahan yang jarang digunakan di makam pada umumnya. Di beberapa sudut makam, terlihat tempat pembakaran dupa, menandakan kuatnya nuansa spiritual di lokasi ini.

  1. Dijaga Tradisi & Cerita Mistis Watulawang

Kompleks makam ini tidak lepas dari kekuatan budaya lokal. Masyarakat Desa Watulawang hingga kini masih memegang teguh tradisi Jawa seperti Merdi Bumi, Palakia, Ruwat Dadung, Baritan, hingga Kenduren yang biasa digelar pada Bulan Sura.

Nama “Watulawang” sendiri diambil dari nama batu unik menyerupai pintu di area persawahan. Batu ini dipercaya sebagai gerbang gaib, dan terbentuk dari batuan breksi vulkanik bercampur andesit hasil aktivitas gunung api masa Miosen Atas.

Sumber: Merdeka.com


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.