KEBUMEN, Kebumen24.com – Warga Dukuh Kuwarisan, Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, Jawa Tengah, kembali menggelar tradisi unik dalam memperingati Tahun Baru Hijriah 1447 H atau bulan suro. Sebanyak lebih dari 7.000 ingkung ayam dan tumpeng diarak keliling kampung dalam kirab budaya yang meriah dan penuh makna yang digelar pada Jumat Kliwon, 27 Juni 2025.
Kirab dimulai dari halaman Kantor Kelurahan Panjer, melintasi Jalan KH Hasyim Asy’ari, dan berakhir di Masjid Banyumudal. Ratusan warga terlihat antusias mengikuti arak-arakan, baik sebagai peserta maupun penonton. Suasana semakin semarak dengan kehadiran pasukan drum band yang mengiringi kirab.
Setibanya di masjid, warga mengikuti pembacaan tahlil dan doa bersama secara khidmat. Setelah itu, tumpeng dan ingkung disajikan dan disantap bersama dalam suasana kekeluargaan yang hangat.
Azis Ramadani, salah satu panitia kegiatan, mengatakan tradisi kirab ingkung ini telah berlangsung turun-temurun sebagai warisan budaya dari para leluhur. Ia menyebut, tahun ini jumlah ingkung yang dibuat masyarakat mencapai lebih dari 7.000 porsi.
“Meski yang diarak hanya sebagian sebagai simbolis, tapi hampir setiap rumah membuat ingkung untuk dibawa ke masjid atau dinikmati bersama keluarga. Ini wujud syukur dan penghormatan terhadap bulan Muharam,” ujarnya.

Tradisi ini juga menjadi bagian dari haul (peringatan wafat) ulama besar Syaikh Ibrahim Asmoroqondi, tokoh penyebar Islam yang dikenal luas di Tanah Jawa, khususnya di wilayah Kuwarisan Panjer.
Tak hanya bernilai religi dan budaya, kirab ingkung juga berdampak positif pada perekonomian warga. Ratusan pelaku UMKM tampak menjajakan aneka dagangan di sepanjang rute kirab. Banyak di antara mereka yang mengaku meraup keuntungan dari membludaknya pengunjung.
“Tradisi ini bukan hanya tentang budaya dan agama, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga. Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa terus dilestarikan dan menjadi penguat sinergi antara ulama dan umaro,” imbuh Azis.
Sementara itu, salah satu warga, Ibu Soleh, mengaku setiap tahun selalu pulang kampung dari Jakarta demi mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan ini mampu merekatkan silaturahmi antarwarga dan menjadi momen penting untuk berkumpul dengan keluarga besar.
“Saya selalu menyiapkan minimal tiga ingkung. Tidak ada resep khusus, ini bentuk rasa syukur dan kebersamaan,” ujarnya.(K24/ILHAM).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















