KARANGSAMBUNG, Kebumen24.com – Suasana hangat dan penuh rasa syukur menyelimuti hamparan sawah di Dukuh Kalikudu, Desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Sabtu (14/6/2025). Ratusan warga berkumpul membawa tumpeng dari rumah masing-masing dalam tradisi tahunan Barit atau Bubar Ngarit yang digelar sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi.
Sebanyak 650 tumpeng tersaji berjajar di tengah sawah, dibawa oleh kepala keluarga dan perwakilan lembaga desa. Meski belum mencapai angka seribu, tradisi ini tetap dikenal sebagai Tumpeng Sewu, yang melambangkan semangat gotong royong dan tingginya partisipasi warga.
“Tradisi Barit ini warisan leluhur kami. Selain wujud syukur, juga mempererat kebersamaan warga,” ujar Kepala Desa Kaligending, Lukman Hakim.
Tak hanya makan bersama, kegiatan juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit pada siang dan malam hari. Siang hari menampilkan lakon Dewi Sri, dewi kesuburan yang lekat dengan dunia pertanian. Malam harinya disuguhkan cerita epik Ramayana, yang memukau warga dari berbagai usia.

Camat Karangsambung, Siti Nuriatun Faoziyah, S.Ag., M.Si., yang turut hadir, menyampaikan apresiasinya terhadap masyarakat Kaligending.
“Tradisi ini mencerminkan kesejahteraan warga dan mendukung semangat Karangsambung Bebrayan Agung. Bahkan ini sejalan dengan pengembangan Geopark Kebumen dalam pilar Geo Culture,” ungkapnya.
Menurutnya, budaya lokal seperti Barit Kalikudu merupakan bagian penting dari identitas Karangsambung sebagai kawasan geologi unggulan.
Apresiasi juga datang dari Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Fraksi Gerindra, Dwi Yasmanto. Ia menilai tradisi ini tak hanya melestarikan budaya, tapi juga punya nilai ekonomi dan relevansi dengan ketahanan pangan nasional.
“Tumpeng Sewu menandakan bahwa masyarakat tidak kekurangan pangan. Ini sejalan dengan program kedaulatan pangan nasional. Bahkan Indonesia kini mampu ekspor jagung. Artinya, desa-desa seperti Kaligending berperan penting,” ujarnya.
Ia berharap tradisi ini terus dilestarikan dan bisa menjadi kekuatan budaya lokal yang mendorong pembangunan berbasis kearifan lokal.
“Ini harus kita lestarikan bersama agar tetap hidup dari tahun ke tahun,” pungkasnya.(k24/ilham).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















