KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sawangan, yang terletak di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, memiliki sejarah yang kaya dan beragam. Terbentuk pada sekitar abad ke 18, desa ini telah menjadi pusat kehidupan masyarakat sekitar dengan berbagai peristiwa bersejarah yang telah membentuk identitasnya.
Diikutip dari laman resmi website Desa Sawangan menyebutkan, konon Desa Sawangaan pada jaman dahulu adalah berupa hutan. Hingga pada abad ke 18, berasal dari wilayah Mataram datanglah rombongan orang-orang yang tidak tunduk dengan Pemerintah Compeni Belanda.
Setelah berjalan sekian jauh, rombongan tersebut singgah di suatu wilayah di pinggir sungai yang merupakan perpaduan / pertemuan dari dua buah sungai (sungai cawang) yang satu dari arah utara dan dari arah timur. Di tempat persinggahan tersebut mereka mengadakan musyawarah untuk menyelamatkan diri masing – masing.
Awal Mulda Disebut Desa Sawangan
Dari hasil musyawarah tersebut mereka sepakat untuk berpencar / berpisah sendiri-sendiri atau dalam bahasa Jawa terkenal dengan istilah Soang-soangan. Ada yang pergi ke arah selatan, suatu daerah yang sekarang disebut dengan Desa Seliling. Ada yang ke arah timur, daerah yang sekarang disebut Desa Wonokromo.
Dari kesepakatan untuk berpisah soang-soangan (sendiri-sendiri) di pinggir sungai cawang tersebut Ki Astroboyo dengan dikawal oleh beberapa pengikut setianya, tetap tinggal di tempat untuk babad desa.
Desa yang sekarang terkenal dengan nama Sawangan, berasal dari istilah soang-soangan di tempat sungai cawang tersebut. Dalam menjalani kehidupan sehari – hari, Ki Astroboyo didampingi oleh punggawa – punggawa pengikut setia beliau antara lain :
- Nyi Serani sebagai Abdi dalem. Beliau dimakamkan di wilayah yang hingga sekarang terkenal dengan wilayah Nyi Serani.
- Ki Barat Ketigo (angin musim kemarau) diberi tugas sebagai kurir untuk membayar upeti ke daerah Solo. Dinamakan Ki Barat Ketigo karena dalam melaksanakan tugasnya sebagai kurir beliau sangat cepat, seperti angin kemarau. Konon dari Desa Sawangan membawa bekal nasi panas, begitu sampai di tempat tujuan bekal tersebut masih panas. Beliau dimakamkan di Kemancing.
- Ki Nolodiwongso atau lebih terkenal dengan sebutan Mbah Cakra, bertugas sebagai penunduk / penakluk banteng. Beliau dimakamkan di wilayah Rt 05 Rw 01 yang hingga sekarang lazim disebut sebagai wilayah Mbah Cakra.
- Ki Pringgoloyo dimakamkan di wilayah watugeni yang hingga sekarang disebut makam Pringgoloyo.
- Kyai Kubon bertugas mengurus perkebunan. Beliau dimakamkan di wilayah Kedungdalem , sampai sekarang wilayah itu disebut Kyai Kubon.
Terdapat juga Pahlawan perang bernama Mbah Mangkuyudo berasal dari wilayah Jogja. Beliau dimakamkan di wilayah Kedung Gebang. Hingga sekarang nama-nama tersebut masih dilestarikan dan selalu diperingati setiap tahun dengan waktu dan jenis selamatan yang berbeda-beda, antara lain :
- Eyang Astroboyo diperingati dengan selamatan berbentuk ingkung ayam.
- Eyang Mangkuyudo dan Ki Nolodiwingso diperingati dengan selamatan berbentuk tumpeng ayam. Ketiga tokoh tersebut diperingati setiap tahun menjelang musim tanam atau dalam bahasa Jawa terkenal dengan istilah Krapyak / Pelabuh.
- Nyi Serani diperingati dengan selamatan berbentuk tumpeng kikil.
- Ki Pringgoloyo dan Kyai Kubon diperingati dengan selamatan berbentuk tumpeng ayam. Ketiga tokoh tersebut diperingati setiap tahun setelah tanam padi(bar tandur), selesai matun (menyiangi gulma/rumput).
Kemudian Metri desa / Merdi bumi dilaksanakan setiap tahun menjelang panen padi dengan selamatan berbentuk Ingkung ayam. Hingga sekarang peringatan-peringatan/adat tradisional tersebut masih dilestarikan dan masyarakat belum berani menghilangkan acara tersebut.
Jadi asal mula nama Sawangan berasal dari kata soang-soangan dan di wilayah tersebut juga terdapat sungai cawang. Sekarang nama Sawangan diartikan oleh orang lain benar-benar menjadi Sawangan atau pandangan yang indah dari unsur pemandangangan maupun potensi-potensi desanya yang selalu indah dengan diapit bukit yakni Pagerijo dan Pagergeong serta Kaligalas.
Di tengah desa menjulang tinggi 3 (tiga) unit menara / tower dari perusahan jasa telepon. Bila dilihat dari atas akan lebih terasa betapa asrinya Desa Sawangan, seindah namanya Sawangan.
Geografis
Secara Geografis dan secara administratif Desa Sawangan merupakan salah satu dari 449 Desa di Kabupaten Kebumen, dan memiliki luas wilayah 342,42 Ha.
Secara topopografis terletak pada ketinggiaan rata-rata 25 meter diatas permukaan air laut. Posisi Desa Sawangan yang terletak pada bagian timur laut Kabupaten Kebumen berbatasan langsung dengan, sebelah utara Desa Kalirancang, sebelah timur bebatasan dengan Desa Wonokromo dan Tlogowulung, sebelah selatan Desa Seliling, serta sebelah barat Desa Kalijaya,
Lahan di Desa sebagiaan besar merupakan Tanah Kering 89,96% dan Tanah sawah sebesar 10,04%.
Iklim Desa Sawangan, sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai Iklim Kemarau dan Penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Sawangan, Kecamatan Alian
Demografi
Jumlah Penduduk Desa Sawangan berdasarkan Profil Desa tahun 2019 sebesar 4.072 jiwa yang terdiri dari 2.051 laki laki dan 2.021 perempuan.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















