SEJARAH

Asal usul Nama Desa Kawedusan Kebumen, Ternyata Dulu Banyak Kambing Liar

3959
×

Asal usul Nama Desa Kawedusan Kebumen, Ternyata Dulu Banyak Kambing Liar

Sebarkan artikel ini
Foto : KANTOR DESA KAWEDUSAN KEBUMEN (Dok: Desa Kawedusan)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sebuan nama daerah atau desa pasti memiliki sejarah panjang dan cerita tersendiri. Tak terkecuali  Desa Kawedusan Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen Propinsi Jawa Tengah.

Jarak Desa Kawedusan dengan pusat Pemerintahan Kecamatan maupun Pemerintahan Kabupaten sejauh kurang lebih 2 Km. Desanya berbatasan dengan Wilayah Kecamatan Alian Kebumen.

Dikutip dari laman website resmi Desa Kawedusan Kebumen, secara harfiah Kawedusan terdiri dari tiga suku kata yaitu, Ka (tujuan) Wedus (Kambing) dan akhiran an (banyak). Artinya bahwa suatu daerah yang banyak di dapati atau dipelihara hewan kambing.

Asal mula Desa Kawedusan tidak lepas dari padukuhan Karang Jambe yang menjadi cikal bakal Desa Kawedusan. Ini di karenakan padukuhan Karang Jambe sudah ada terlebih dahulu sebelum Desa Kawedusan ada yang terletak di sebelah barat kali Srandil (sebelah timur Desa Kawedusan sekarang).

Padukuhan Karang Jambe di huni oleh keluarga dari trah Adipati Sruni Raden Tumenggung Kertileksono tahun 1677 M (sekarang Desa Bandung). Mereka hidup bercocok tanam karena hidup sebagai seorang petani (agar tidak kelihatan darah ningrat/ priyayi).

Pada malam hari beliau di kagetkan oleh hilangnya anak laki-laki tertua yang pada siang hari pamit mau mencari ikan di kali Srandil dekat rumah. Akan tetapi sampai larut malam anaknya tidak kunjung pulang kerumah.

Sehari dua hari anaknya belum pulang juga sehingga membuat bingung semua anggota keluarga. Padahal keluarga sudah mencari kesana kemari tapi tidak membuahkan hasil.

Akhirnya diputuskan untuk mencari menyusuri sepanjang kali Srandil dengan berjalan kaki menuju kearah selatan. Sampai akhirnya sampai di penghujung sungai yang tidak lain adalah laut selatan masih belum juga menemukan anaknya.

Perjalanan yang jauh menyusuri kali Srandil membuat beliau di hinggapi rasa capek dan lelah. Hingga akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon nyamplung sampai akhirnya tertidur.

Dalam tidurnya beliau bermimpi/ mendapat firasat yang mengatakan bahwa anaknya suatu hari akan pulang kerumah kelak kalau sudah besar. Ini karena anak tersebut diminta oleh Ki dan Nyi Dalim.

Sambil menunggu anaknya pulang beliau di suruh Ki Dalim dan Nyi Dalim untuk berziarah kemakam Sunan Geseng yang terletak di Daerah Bagelen, Purworejo. Beliau di suruh untuk mengambil tanah makam sebesar satu kepal tangan untuk di tanam di daerahnya, dan apa bila ingin hidup tentram dan damai harus selalu patuh dan taat perintah Tuhan dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya.

Maka pulanglah beliau ke Karang Jambe dan menceritakan tersebut kepada istrinya kejadian di pantai selatan agar berziarah ke Makam Sunan Geseng (Syekh Ireng) dan Syekh Sueb, yang mana Syekh Ireng dan Syekh Sueb merupakan tokoh pensiar Agama Islam di Daerah Bagelen.

Sesampainya di Makam Sunan Geseng dan Syekh Sueb beliau menyampaikan niatnya seiring memohon pertolongan Allah SWT, agar diberi petunjuk untuk anak laki-lakinya segera kembali berkumpul bersama keluarganya.

FOTO : KEGIATAN TRADISI WARGA KAWEDUSAN (dok: Desa Kawedusan)

Dengan mengambil tanah Makam Sunan Geseng dan Syekh Sueb maka pulanglah ke Karang Jambe. Kemudian segera menanam tanah makam tersebut di sebelah barat Padukuhan Karang Jambe.

Setelah itu dipasang tanda (patok dari Kayu) sebagai tanda pengabdian beliau menyembah pada Tuhan Yang Maha Esa. Alhasil alangkah terkejutnya karena terjadi keajaiban dimana lokasi tersebut tumbuh rumput yang hijau dan lebat (padang rumput) dan pada pagi harinya berdatangan kambing-kambing liar yang mencari makan di sekitar lokasi.

Sepulang menanam tanah beliau tidak langsung pulang ke Karang Jambe tapi berjalan memutar kearah utara dan dijumpainya beberapa ekor kambing berjalan rapi beriringan ingin merumput.

Dengan rasa penasaran beliau kembali ketempat dimana lokasi ditanam tanah makam dan ternyata didapati sudah ratusan ekor kambing sedang makan rumput. Karena banyaknya kambing yang merumput disitu, beliau memutuskan menamakan daerah tersebut Padukuhan Kawedusan.

Setelah sampai dirumah beliau memutuskan untuk memindahkan tempat tinggalnya (Karang Jambe) kesebelah barat dukuh Karang Jambe, mengajak anak dan istrinya untuk pindah ke Padukuhan Kawedusan yang letaknya disebelah barat Padukuhan Karang Jambe sampai sekarang.

Setelah itu, tempat dimana ditanam tanah makam Syekh Ireng dan Syekh Sueb hingga sekarang masih ada. Meskipun keberadaanya tidak terawat.(k24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.