Religi

Tausiyah di Acara POGI Jateng, Gus Lukman Alhasani Kupas Makna Halal Bihalal

1079
×

Tausiyah di Acara POGI Jateng, Gus Lukman Alhasani Kupas Makna Halal Bihalal

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com –  Halal bihalal merupakan sebuah tradisi budaya khususnya masyarakat masyarakat Indonesia dibulan Syawal atau lebaran idul Fitri. Meski begitu, halal bihalal bukan hanya sekedar tradisi atau formalitas belaka, namun memiliki makna yang sangat penting dalam ajaran agama. Terutama mengajarkan untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi sesama manusia.

Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Alhasani Desa Jatimulyo Kecamatan Alian Kebumen, Gus Lukman Hasan Alhasani, saat mengisi Tausiyah di acara Halal Bihalal Persatuan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) cabang Semarang Jawa Tengah, di Mexolie Hotel Kebumen, Sabtu 4 Mei 2024. Hadir secara langsung Wakil Bupati Kebumen Ristawati Purwangsih, Ketua Cabang Semarang Jawa Tengah, dr. Ediwibowo Ambari, serta para Dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

Gus Lukman menjabarkan, Halal Bi Halal memiliki makna yang sangat luar biasa, dan sudah menjadi adat, budaya Negara Indonesia. Halal Bihalal penting karna dalam ajaran agama terdapat kalimat kalimat Hablum Minalloh dan Hablum minannas.

‘’ Nenek moyang kita, sesepuh sesepuh kita, dari dulu, dari sebelum merdeka, itu sudah ada acara Halal Bi Halal. Apa makna sebenarnya kita mengadakan acara Halal Bi Halal? Kita sebagai manusia menjadi hamba tuhan, ada kalimat Hablum Minalloh dan Hablum minannas,’’jabarnya.

Disebutkan, Hablum Minalloh merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Sedangkan Hablum Minannas adalah urusan dengan sesama manusia.

‘’ Kalau hubungan kita dengan Tuhan, seberapa besar dosa kita ketika hidup di dunia, ketika seorang hamba bertobat, pasti diampuni oleh Tuhan. Tapi kalo hubungan kita dengan sesama manusia inilah yang paling berat. Makna Halal Bi Halal sesama manusia adalah saling memaafkan. Kenapa kita mengadakan acara Halal Bi Halal? Saling memaafkan supaya besok ketika kita hidup, kelak tidak ada di dunia, tidak ada yang menuntut,’’imbuh Gus Lukman yang merupakan Menantu dari Pengasuh Ponpes Alkahfi Somalangu Kebumen itu.

Gus Lukman menjelaskan, halal bihalal sangat penting untuk menjaga hubungan silaturahmi dan saling memaafkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurutnya, menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian dari kewajiban umat beragama dan juga untuk menjaga keharmonisan dan kedamaian dalam masyarakat.

Selain itu, Gus Lukman juga menekankan pentingnya menjadikan hati yang tulus dan ikhlas dalam memaafkan orang lain. Termasuk senantiasa berusaha untuk meraih ridha Allah dalam setiap langkah kehidupan.

‘’Dengan demikian, halal bihalal bukan hanya sekedar ritual tahunan yang dilakukan secara formal, tetapi menjadi momentum berharga untuk merenungkan kembali nilai-nilai kebaikan dan ketulusan dalam berinteraksi dengan sesama,’’jelasnya.

Lebih lanjut Gus Lukman mengatakan, bahwa di Indonesia terdapat 5 Pancasila. Yang pertama, ketuhanan yang Maha esa. Menurutnya, apapun itu ras dan sukunya ketika mempunyai Tuhan harus berkeyakinan kuat. Apalagi sebagai dokter kandungan yang pengorbanan yang sangat luar biasa.

‘’Harus memiliki keyakinan kepada Tuhan karena apa? dokter kandungan inilah yang manfaatnya sangat luar biasa. Sebab harus menyelamakan dua orang nyawa. Satu, bagaimana mempikirkan ibu yang ngandung harus selamat dan kedua bagaimana mempikirkan anak yang di dalam kampungan ketika lahir itu selamat. Ini kalau tidak ketuhanan yang Maha esa pasti susah,’’ucapnya.

Kemudian sila kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Ia menilai soal akhlak dan adab inilah di negara Indonesia ini sudah semakin berkurang. Berbeda dengan orang -orang jaman dulu.

‘’Maka pada acara hal -hal ini, kita tingkatkan akhlak yang sepuh ayo ngayomi yang muda, yang muda ayo kita hormati yang tua,’’tambah Gus Lukman.

Selanjutnya Sila ketiga adalah Persatuan Indonesia. Artinya para dokter haru bersatu untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

‘’Kalo antara dokter tidak bersatu nanti masyarakat bingung dok, jadi saya sangat mendukung sekali pada acara pada malam hari ini, Pogi Cabang semarang mendakan di kebumen, semoga bermanfaat untuk masyarakat kebumen,’’tuturnya.

Untuk Sila ke empat, Gus Lukman menyebutkan kerakyatan yang dipimpin oleh hidmat kebijaksanaan dalam permusarawaratan. Kalimat permusawaratan ialah sebagai musyawarah. Ketika para dokter kandungan ini melakukan musyarawah pasti akan menghasilkan yang sangat maksimal.

Yang terakhir adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini diperuntukkan bagi seorang pemimpin. Pastinya suatu golongan atau suatu kolompok pasti ada ketuanya. Contoh, pogi semarang juga ada ketuanya.

‘’Harus adil sama bawang -bawannya. Sukur -sukur bisa usul keatasan supaya gaji dokter bisa dinaikan,’’ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Lukman juga membasikan satu resep bagi yang ingin mendapatkan kebahagian di dunia maupun akhirat. Yakni harus memiliki kesabaran dalam hidup.

Sabar terbagi menjadi tiga. Yang pertama sabar terhadap musibah. Yang kedua, sabar terhadap taat. Dan Ketiga sabar terhadap maksiat.

‘’Yang pertama, sabar terhadap musibah. Entah apapun jabatannya, berapapun usianya, apapun profisinya, pasti pernah mengalami yang namanya, musibah. Makan kita harus bersabar,’’terangnya.

‘’Kadang ibu melahirkan anaknya meninggal, ibunya juga meninggal. Kadang melahirkan ibunya selamat, anaknya tidak selamat. Saya punya teman di pesantren. Kemarin belum lama, ibunya meninggal padahal dia baru mengandung 7 bulan, betapa susahnya keluarganya. Inilkan termasuk terkena musibah. Jadi ketika kita kepengin hidup, nyaman, tenteran, bahagia, kita harus sabar terhadap musibah,’lanjut Gus Lukman.

Kedua sabar terhadap taat. Seorang hamba yang taat pasti akan mengalami ujian dari Tuhannya.

‘’kita disuruh taat atau disuruh taat kepada Tuhan kita semua. Ini juga bakal di uji oleh Tuhannya masing -masing. Intinya harus tetap bersabar,’’katanya.

Gus Lukman menandaskan, sabar yang terakhir, yakni sabar terhadap maksiat. Hidup di dunia semua orang pasti mengalami yang namanya maksiat. Baik maksiat kaki, tangan, telinga, mata, dan juga maksiat -maksiat yang lainnya.

‘’ Intinya kita tetap harus berbersabar. Di televisi, kita sering melihat banyak sekali berita -berita yang mungkin tidak enak didengar. Ada anak bunuh orang tua, ada orang tua bunuh anak, banyak sekali bencana, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan lain sebagainya. Itu kenapa? Karena seorang amba manusia Ketika diberi nikmat oleh Tuhan, tidak mau bersyukur malah maksiat pasti di dunia ini bencana pasti akan turun. Maka kita harus bersabar,’’pungkasnya.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.