HukumPemerintahanPendidikanPERISTIWA

Sambang ke Desa Pengaringan, FKUB Kebumen Belajar Menjaga Toleransi

1487
×

Sambang ke Desa Pengaringan, FKUB Kebumen Belajar Menjaga Toleransi

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com –  Desa Pengaringan kecamatan Pejagoan Kebumen merupakan sebuah desa yang memiliki Jumlah penduduk sekitar 221 kepala keluarga dan 721 warga. Mayoritas Warga beragama Islam dan sebagian Kristen, namun mereka hidup berdampingan dengan damai.

Mereka hidup rukun saling bantu-membantu, dan bekerjasama dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk hidup bersama di masyarakat. Bahkan, banyak di antara warga yang keluarga besarnya beda agama (Islam dan Kristen).

Hal inilah yang memantik Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten Kebumen untuk datang menyambangi Desa Pengaringan, Selasa 20 September 2022. Kunjungan dipimpin oleh K.H. Azhar Muhammadi disambut baik oleh Kepala Desa setempat Bayu Sutrisna.

Turut hadir Ky. Sukiman tokoh muslim, Pendeta Andreas (Kristen), Thomas Sukarso dan beberapa warga lainnya. Rombongan dipandu menuju ke Greja Kristen Jawa Pengaringan yang letaknya tidak jauh dari Masjid Nurul Huda.

Ashar Muhammadi mengatakan, kunjungan ini dilakukan untuk belajar bagaimana merawat kerukunan dan toleransi yang ada di desa Pengaringan. Menurutnya, budaya toleransi di desa ini sudah cukup baik.

“Kami mendengar di sini masyarakatnya hidup rukun dan damai dalam sebuah perbedaan, sebagai pengurus FKUB kami ingin belajar bagaimana caranya merawat kerukunan dan merawat kesadaran toleransi di sini. Harapanya bisa kami ceritakan dalam kunjungan ke tempat lainnya di berikutnya,” ujar Ashar Muhammadi.

Sementara itu, Kepala Desa Pengaringan, Bayu Sutrisna menuturkan, keharmonisan warganya tercipta sudah sejak jaman dulu dan adat menjadi sarana pemersatu bagi warganya untuk menciptakan toleransi. Masyarakat juga masih selalu nguri-uri budaya seperti gotong royong lingkungan, selamatan atau kenduren dan adat yang biasa dilakukan ketika ada warganya meninggal dunia atau kesripahan.

“Di sini, kalau ada gotong royong mendirikan rumah warga, rumah ibadah, ataupun hajatan pernikahan, dan sunatan,masyarakat desa berbaur jadi satu, yang ada adalah kepentingan bersama. Bahkan kalua ada orang kesripahan/orang meninggal dunia, masyarakat langsung datang membantu tanpa memandang agamanya apa, mereka langsung datang tanpa dikomando. Konsep “kekeluargaan” masih menjadi pedoman dalam kehidupan warga kami, toleransi dan saling menghargai adalah harga mati,” tandasnya.

Selain itu, ada tradisi selamatan Suran. Di Pengaringan dikenal dengan istilah kenditan. Kenditan merupakan salah satu acara tumpengan atau bancakan yang dilakukan beramai-ramai di desa Pengaringan sebagai ikhtiyar tolak balak.

‘’Keharmonisan tersebut juga tidak lepas dari peran tokoh masyarakat. Mereka selalu berupaya menjalin komunikasi dan menjaga keharmonisan. Sehingga sekecil apapun benih pertikaian pasti akan dipadamkan.’’tandasnya.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.