KEBUMEN, Kebumen24.com,- Adanya rencana perubahan Peraturan Daerah (Perda) RT RW untuk mengakomodir kepentingan nasional yang berkaitan dengan pembangunan jalan tol. Pemerintah Kabupaten Kebumen diminta menangkap peluang tersebut untuk memunculkan produk ikonik khas Kebumen.
Apalagi Kebumen memiliki berbagai jenis Produk UMKM baik makanan maupun kerajinan yang terkenal hingga ke mancanegara. Sehingga daya tarik tersebutlah, yang bisa mewujudkan cita cita besar Kebumen sebagai Spirit Of java.
Anggota Komisi B DPRD Kebumen Miftahul Ulum mengatakan hal tersebut perlu digarap serius oleh pemerintah, dimana dengan produk ikonik dari UMKM, Kabupaten Kebumen memiliki ciri khas seperti daerah lain. Pihaknya mencontohkan seperti di Kabupaten Banyumas yang memiliki jajanan khas Gethuk Sokaraja, sehingga wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut, pasti mengenal gethuknya.
Di Kebumen sendiri sebenarnya memiliki produk yang sudah cukup dikenal yakni Sate Ambal dalam kemasan. Akan tetapi, usaha UMKM tersebut dijalankan secara mandiri dan belum sama sekali dilirik oleh pemerintah.
Begitu juga dengan lanthing Kebumen yang juga belum ada perhatian, sehingga pengemasannya pun hanya menggunakan plastik biasa. Dirinya yakin, apabila dikemas dengan baik maka produk cemilan tersebut memiliki daya tarik dan harga yang tinggi.
” Kita punya sate ambal dan lanting tapi sampai hari ini belum ada perhatian dari pemerintah untuk mengangkat produk tersebut menjadi ikon Kebumen,” Ujarnya, Rabu, 22 Desember 2021
Gus Miftah juga mengatakan, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kebumen juga harus fokus dalam sektor pertanian. Dalam hal ini tentu pertanian dalam pandangan luas. Namun sejauh ini, industri berbasis agrobisnis belum muncul meskipun potensinya luar biasa.
“Kemarin RPJPDnya Kebumen sejahtera berbasis agrobisnis tapi pemanfaatan alam dan masyarakat selama ini masih minim,” katanya.
Menurutnya fokus RTRW Kebumen saat ini untuk pertanian, dan pariwisata sebagai sarana pemasaran produk UMKM masyarakat. Agar kesejahteraan mereka lebih meningkat.
“Saat ini persetujuan (persetujuan perubahan Perda RTRW) sudah dikirim ke Kementerian ATR, nantinya ada pembahasan linsek di pusat,” imbuhnya.
Mengenai industri agrobisnis, Gus Miftah menyebut beberapa program sejauh ini sudah mengarah kesana. Salah satunya perbaikan infrastruktur jalan sebagai salah satu sarana untuk menggerakkan roda perekonomian di wilayah Kebumen.
“Pembangunan infrastruktur dan ekonomi menjadi tanggung jawab bersama antara eksekutif dan legislatif,” jelasnya.
Disisi lain, pemberdayaan masyarakat dalam hal peningkatan kapasitas UMKM juga penting dilakukan. Ia mencontohkan di wilayah Kebumen utara, hasil pertanian singkong cukup melimpah.
“Menunggu singkong panen itu sekitar 8 bulan. Dan panennya, perkilogram hanya Rp 1.000 sampai Rp 1.500,” tegasnya.
Bagi politisi senior PKB Kebumen ini, pemerintah perlu mendorong produk olahan yang memiliki nilai jual. Dengan demikian, masyarakat bukan saja menikmati hasil pertanian tetapi juga nilai tambahnya dari produk pertanian tersebut.
“Kita perlu membuat industri berbasis agrobisnis yang ikonik di wilayah Kebumen,” jelasnya.(k24)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















