KEBUMEN, Kebumen24.com,- Di hari ulang tahun yang ke 392 Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen tampak berbeda atau manglingi. Bagaimana tidak, suasana pendopo saat ini sangat merakyat tanpa ada pembatas dan sangat kental dengan Budaya Jawa.
Hal tersebut disampaikan oleh pengamat budaya Kebumen Sigit Asmodiwongso usai menghadiri peringatan upacara HUT Kebumen Sabtu, 21 Agustus 2021. Menurutnya, konsep kekuasaan jawa disimbolkan dengan tata kota atau yang disebut dengan catur gatra yakni 4 pilar.
‘’ Jadi seorang raja itu bertanggung jawab atas politik ekonomi sosial budaya dan religi, hal itu yang selalu disimbolkan dengan bentuk bentuk kota yaitu pendopo atau rumah raja, kemudian alun alun, masjid dan selalu ada penjara di dekat situ.’’ujarnya.
Ia menambahkan, Alun alun ini memiliki fungsi banyak yaitu fungsi sosial budaya yang menjadi poros kegiatan masyarakat. Dimana biasanya alun alun menjadi tempat pertemuan warga, pasar dan lain sebagainya. Sehingga pendopo dan alun alun, secara budaya Jawa tidak boleh terhalang.
” Secara budaya Jawa pendopo dan alun alun tidak boleh terhalang,” Ucapnya.
Salah satu tradisi dalam budaya Jawa adalah tradisi pepe, atau apabila ada seorang warga memiliki masalah dan ingin bertemu rajanya, maka ia akan duduk dibawah pohon Beringin sampai sang raja melihat dan memanggilnya. Jadi memang secara budaya, Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen saat ini sesuai dengan Catur Gatra.
” Salah satu tradisi yang ada adalah tradisi PP, kalo kawulo itu merasa ada masalah yang kepengin lapor ke pimpinan atau rajanya dia akan duduk dibawah Bringin sampai sang raja itu melihat rakyatku, ada yang duduk disana panggil kesini nah itu tidak akan terjadi jika pendopo dan alun alun terhalang sesuatu,” Jelasnya.
Dikatakan sigit dirinya mengaku sangat setuju dengan konsep dari Pendopo yang saat ini, dikarnakan tidak ada halangan antara Pendopo dan Alun Alun. Ia juga pernah menanyakan ke Bupati terkait dengan konsep Pendopo saat ini, dimana alasan Bupati dalam bahasa jawa ” Nek neng kene ono rame rame uwong pada ngerti dan bisa masuk” Kalo disini ada rame rame disini masyarakat tahu dan bisa masuk, tidak takut takut.
” Jadi pada prinsipnya Pendopo itu milik masyarakat Kebumen, sehingga kalo ada pembatas masyarakat seakan takut,” Pungkasnya.
Sementara itu Bupati Kebumen H. Arif Sugiyanto menyampaikan manunggaling rakyat Kebumen ini yang sangat diharapkan, ditengah pandemi covid 19 ini. Jadi seperti terlihat para peserta upacara ada dari semua lapisan masyarakat, ini menunjukkan Kebumen harus bersama sama kompak manunggal bersama rakyatrakyat yang mencerminkan bersatu padu.
Saat disinggung terkait pendopo saat ini Bupati berpendapat tentunya pendopo Bupati saat ini bisa lebih terbuka, sehingga masyarakat bisa aktif berkegiatan. Berkegiatan sosial, kegiatan kebudayaan seni dan yang lain lain, sehingga bisa bersama sama, jadi ini adalah pendopo rakyat untuk masyarakat.
” Jadi pendopo agar bisa lebih terbuka, sehingga masyarakat bisa aktif berkegiatan mulai dari seni budaya dan lain lain, jadi ini adalah pendopo rakyat untuk masyarakat,” Jelasnya.
Pengurus Rumah Tangga Pendopo Bupati Supriyadi saat ditemui mengatakan konsep Pendopo saat ini adalah murni dari Bupati Sendiri. Dirinya mengaku ditugaskan selama 5 hari untuk merubah wajah dari Pendopo, agar dihari ulang tahun Kebumen bisa digunakan untuk upacara.
‘’ Pendopo Rumah Dinas Bupati kini seakan lebih luas. Dimana di belakang Pendopo ada kebun buah dan sayuran dengan konsep firtegrasi, sehingga tampak lebih asri. Untuk merubah wajah Pendopo menghabiskan anggaran sebesar Rp 25 juta. Yang menurutnya Pendopo saat ini, lebih ramah terhadap masyarakat’’jelas Supri.
Dalam peringatan Hari Jadi Kebumen, saat ini memang terlihat sangat sakral, dimana seluruh peserta tampak mengenakan pakaian adat Jawa, serta diikuti oleh berbagai profesi ditengah masyarakat, mulai dari buruh, pedagang hingga ASN dan juga TNI Polri. (K24/IMAM).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















