KEBUMEN, Kebumen24.com – Lambang atau logo Kabupaten Kebumen ternyata banyak versi dan tidak sesuai dengan aturan Peraturan Daerah (Perda). Logo yang tersebar dinilai tidak sesuai dengan Perda Nomor 30a/DPRD-GR/70 tanggal 14 Oktober 1970 tentang Bentuk Lambang Daerah Kabupaten Kebumen.
Banyaknya versi tersebut, membuat Bupati Kebumen Arif Sugiyanto risih dan meminta agar segera dibetulkan. Apalagi sebentar lagi akan memasuki usia 392 tahun.
“Logo Kebumen harus di betulkan, karna banyak versi di internet dan saya risih melihatnya,” kata Arif dalam pesan singkat, Sabtu 14, Agustus 2021.
Bupati menilai, ada kesalahan yang sering tidak disadari pada logo Kabupaten Kebumen. Pertama padi berjumlah 21, rantai ada 8, kapas berjumlah 5 melambangkan jumlah sila Pancasila. Kemudian warna tanah coklat yang terletak di atas gua, dua burung lawet hitam, laut berwarna biru, dan bintang warna emas pada bagian tengah.
Pada bagian bawah, terdapat bambu runcing yang kerap digambar seperti tugu ataupun tiang. Di samping bambu runcing, terdapat susunan batu bata merah yang berjumlah 13 pada sisi kanan dan kirinya. Di bawahnya ada dua genteng warna merah yang sering digambarkan seperti petir.
“Tulisan Bumi Tirta Mukti sering tertulis Bumi Tirta Prajamukti. Warna dasar logo biru terang langit bukan biru jreng (cerah),” imbuhnya.
Mengutip Perda Nomor 30a/DPRD-GR/70 tanggal 14 Oktober 1970 tentang Bentuk Lambang Daerah Kabupaten Kebumen, setiap gambar dalam lambang tersebut sarat makna. Perisai menggambarkan tekad, semangat dan kesiapsiagaan rakyat untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan dasar Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Bintang segi lima berwarna emas, menggambarkan kepercayaan yang teguh dan luhur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pegunungan melambangkan keteguhan hati, tidak goyah mengalami tantangan alam. Menggambarkan juga sebagian daerah Kabupaten Kebumen terdiri dari tanah pegunungan.
Goa mencerminkan sifat-sifat ketenangan dan kesederhanaan dari rakyat daerah Kabupaten Kebumen dalam usahanya untuk mencapai cita-citanya yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Gua juga merupakan tempat dimana dihasilkan sarang burung.
Laut menggambarkan jiwa perjuangan yang selalu bergelora sepanjang masa, namun penuh dengan kedamaian yang abadi. Menggambarkan juga bahwa sebagian daerah Kabupaten Kebumen berbatasan dengan Samudera Indonesia
Burung Lawet menggambarkan suatu sumber penghasilan daerah dan merupakan pencerminan dari ketekunan dan kegesitan yang penuh dinamika dari rakyat daerah Kabupaten Kebumen dalam usahanya untuk membangun daerahnya. Kapas padi menggambarkan cita-cita rakyat daerah Kabupaten Kebumen yaitu terwujudnya suatu masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila, murah sandang, murah pangan dan cukup papan.
Mata rantai yang sambung menyambung, menggambarkan jiwa dan semangat persatuan yang hidup di kalangan rakyat. Bambu runcing merupakan pencerminan dari sifat kepahlawanan rakyat dalam perang kemerdekaan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan dasar Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Batu bata dan genteng, menggambarkan bahwa industri batu bata dan genteng di Daerah Kabupaten Kebumen merupakan sumber penghidupan rakyat. Secara simbolis menggambarkan bahwa kecuali sektor pertanian, sektor perindustrian juga merupakan sumber penghasilan rakyat Daerah Kabupaten Kebumen.
Kemudian tulisan Bhumi Tirta Mukti berarti tanah dan air untuk kesejahteraan bangsa dan negara. Maksudnya, warga Kabupaten Kebumen sangat bersyukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahi tanah yang subur dan air yang berlimpah-limpah. Anugerah yang tidak ternilai harganya itu merupakan nikmat dari Tuhan yang wajib di manfaatkan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan rakyat.(K24/*)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















