KEBUMEN, Kebumen24.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kebumen menggelar silaturahmi bersama dengan seluruh insan pers yang ada di wilayah Kebumen. Pertemuan ini juga sekaligus dijadikan momentum untuk saling bertukar pikiran oleh para jurnalis dalam menyikapi pesatnya informasi di masyarakat dalam era digitalisai ini.
Tidak dipungkiri bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini memang banyak memunculkan “pembawa berita” yang tidak tidak terbatas penggunanya. Karena semua orang bebas menggunakan akunnya media sosial untuk kepentingan apapun. Sehingga sistem kontrol itu hampir tidak ada.
Itu yang kemudian turut disikapi oleh PWI Kebumen bahwa tantangan pers kini diakui cukup berat, di tengah serbuan media digital dan migrasi masyarakat dalam menggunakan media dalam memenuhi kebutuhan akan informasi.
“Lahirnya media baru (new media) berupa internet, media online, dan beragam platform media sosial (medsos) menjadi tantangan yang harus dihadapi pers,” ujar Ketua PWI Kebumen Iwang Bagus Sukmawan di Resto Gendut, Kebumen, Sabtu 12 Juni 2021.
Dengan banyaknya informasi yang beredar di masyarakat melalui berbagai media, maka peran pers kembali menjadi sangat penting keberadaanya untuk menyampaikan informasi yang valid, kredibel, dan seimbang. Karena sudah terlanjur terpolarisasi dengan banyak informasi yang terkadang berita hoax.
“Kita kembali mengingatkan bahwa menurut UU Pers, produk pers adalah produk berita dan informasi yang dicari, ditulis, dan disampaikan oleh wartawan atau jurnalis. Jadi kalau bukan oleh wartawan, maka produk informasi dan berita itu bukan termasuk produk pers,” terang Wardopo salah seorang wartawan senior Kebumen.
Demikian juga disampaikan oleh wartawan senior dari Suara Merdeka, Arif Widodo bahwa peran yang harus dimainkan oleh insan pers adalah sebagai penjernih informasi dari maraknya hoax di medsos. Disaat informasi tersedia dengan jumlah yang masif hingga menjadi banjir informasi, maka masyarakat perlu disajikan informasi yang benar.
Informasi yang benar pun kata Arif saat ini mengalami pergeseran. Dimana terdapat adagium yang sudah menjadi klasik di dunia jurnalistik bahwa bad news is good news. Kabar buruk adalah berita yang bagus. Namun saat ini juga muncul tren baru, yakni Good news is a good news, kabar positif dianggap akan berdampak pada sesuatu hal positif.
“Tapi sebenarnya berita buruk atau negatif seperti kejadian korupsi, penyelewangan dana, dan sejenisnya itu tetap akan menarik karena berfungsi sebagai social control,” terang Arif.
Menyikapi hal itu, M Tohri SE selaku wartawan senior Ratih TV Kebumen menambahkan bahwa pers tak hanya mengemban fungsi memberi informasi (to inform), mendidik (to educate), dan menghibur (to entertain) saja, namum pers juga harus menjadi media kontrol sosial.
“Praktik pers tak boleh meninggalkan laku idealisme perannya dan menggadaikannya demi pertimbangan bisnis semata. Ya, pers, media massa memang institusi bisnis yang harus hidup dari iklan dan jualan space dan slot tayangan, namun peran idealnya tetap harus mendapat porsi yang cukup,” ucap Tohri yang juga Humas Forum Santri Indonesia Cabang Kebumen itu.
Dalam kesempatan itu juga disingung soal adanya persatuan wartawan di Kebumen yang bukan bagian dari PWI. Satu-satu wadah komunitas wartawan Kebumen yang resmi diakui secara nasional adalah PWI. Maka, di luar itu, siapapun yang mengatasnamakan persatuan wartawan bukan dari PWI.
Pertemuan anggota PWI Kebumen adalah wartawan atau jurnaslime dari media mainstream yang sudah terdaftar di Dewan Pers, baik itu media cetak, televisi atau elektronik, dan online. Artinya keberadaan mereka dalam menjalankan tugasnya dilindungi UU. (K24/*)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















