KARANGGAYAM, Kebumen24.com – Porang adalah salah satu tanaman penghasil umbi-ugmbian dengan nama ilmiah Amorphophallus muelleri . Tapi di Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam, Warga menyebut porang dengan nama badur.
Awalnya, porang dianggap tanaman liar yang kurang bermanfaat dan terkesan disepelekan oleh petani di desa Giritirto apalagi karena bunganya yang berbau bangkai. Akan tetapi sejak dua bulan terakhir, Porang menjadi populer dan menjadi buruan bagi masyarakat desa Giritirto.
Harganya yang tinggi menjadi faktor utamanya. Bahkan untuk ubi porangnya saja berkisar antara Rp.15.000-Rp.20.000 perkilonya. Sedangkan untuk buah atau katak porangnya perkilonya berkisar antara Rp.200.000-Rp.300.000.
Salah satu warga desa Giritirto Sulaiman mengatakan, tanaman porang kini menjadi pilihan alternatif para petani karena harganya terbilang lumayan tinggi dan ara penanamanya pun cukup mudah.
“Dulu porang ini ga se viral sekarang mas, ibarat dulu dibuang sekarang jadi buruan. Hampir setiap warga pasti menanam di sekitar rumah maupun di ladangnya.”ucapnya kepada Wartawan 1 Desember 2020.

Lebih jauh dirinya mengatakan, ada membedakan antara Porang, Suweg, Iles-iles serta Walur karena bentuk batang dan daunnya yang sangat mirip. Dimana jika Porang mempunyai Katak di setiap pertemuan cabangnya sedangkan yang lain tidak.
“Kalo mbedain Porang sama Suweg itu susah-susah gampang mas. Yang mbedain ya cuma kalo porang ada katak atau buahnya mas.”Imbuhnya.(K24/Karanggayam).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















