PEJAGOAN, Kebumen24.com- Peringatan bulan Muharam, atau dalam masyrakat jawa dikenal dengan bulan syuro biasanya diisi dengan berbagai macam tradisi yang turun temurun dan melekat erat dalam kultur masyrakat. Begitu juga Desa Watulawang yang memperingati bulan syuro dengan menggelar tradisi Kuda Lumping dan juga Tari Cepetan.
Kegiatan yang digelar Jumat Kliwon 11 September 2020 ini merupakan agenda rutin tahunan setiap bulan suro. Dalam kesempatan tersebut, pertunjukan Kuda Lumping dan juga Tari Cepetan dimainkan dari Paguyuban Ebleg Sanggar Krida Budaya Watu Lawang dan juga Sanggar Cepetan Alas Tri Tunggal Watu Lawang.
Penggiat seni budaya Desa Watulawang Wardi Parikesit menjelaskan kelompok seni yang beranggotakan 50 orang yang terdiri dari Penari, Penayagan dan Kasepuhan. Kegiatan selalu diawali dengan ziaroh ke makam leluhur di komplek makam kuwu, kemudian dilanjutkan dengan pementasan kesenian dan diacara puncaknyha diadakan nyadran atau slametan syuran.
‘Ini rutin dan puncak acara kita isi dengan kegiatan nyadran atau slametan Suran,’’ jelas Wardi.
Melalui kegiatan ini pihaknya mengajak generasi muda untuk dapat melestaraikan kesenian budaya warisan leluhur agar tidak punah digerus majunya jaman.
‘’Pemuda harus bisa terus melestarikannya,’’ujarnya.
Sementara itu, menurut Ketua Dewan Kesenian Daerah Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo mengatakan kegiatan Ini merupakan kesenian yang turun temurun dan sudah regenerasi dan terus lestari hingga saat ini. Untuk itu pihaknya mendukung kesenian agar terus dilesatarikan.
‘’ Ebleg dan Tari cepetan merupakan kesenian turun temurun yang lestari hingga saat ini dan mendapatkan dukungan kuat dari warga masyrakat dan tokoh masyrakat,’’ ucap Pekik.[k-24/IMAM]
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















