KEBUMEN, Kebumen24.com- Kabar duka datang dari penyanyi legendaris campursari Didi Kempot. Pria yang dijuluki Godfather of Broken Heart ini dikabarkan tutup usia pada, Selasa 5 Mei 2020 sekitar pukul 07.45 WIB di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Berbagai pihak turut menyampaikan ungkapan belasungkawa atas meninggalnya Sang Maestro Campursari yang dikenal memiliki obat patah hati melalui untaian lagu.
Tak terkecuali, Suripto (33) yang merupakan seniman campursari asli Kebumen. Ia merasakan kehilangan mendalam atas wafatnya pemusik kelahiran Solo. Sosok Didi Kempot menurut Suripto adalah pribadi rendah hati yang tak memiliki sekat pembatas sosial.
“Beliau seorang seniman yang tidak pernah pilah-pilih, berbaur dengan siapa saja dan yang terpenting orangnya lembah manah,” ungkap dia lewat pesan singkat, Selasa, 5 Mei 2020.
Kepada Kebumen24, Suripto atau Surip Kethip bercerita masih terpatri dalam ingatannya sempat memiliki pengalaman manis berada satu panggung bersama Didi Kempot. Hal itulah menjadikan kenangan tak terlupakan selama menyelami dunia musik.
“Pernah sekali saya membewakan dua lagu dan dilanjutkan Mas Didi sampai selesai. Dulu kalau tidak salah acara partai di Tanahsari awal tahun 20019. Semua pengalaman berharga yang tak ternilai,” ucapnya.
Kabar kepergian Didi Kempot begitu mengejukan bagi Surip Kethip selaku penggemar setia. Sebab, perjalanannya di dunia campursari hingga mampu menciptakan 13 judul lagu tidak terlepas terinspirasi buah karya seorang Didi Kempot.
“Kebanyakan lagu-lagu yang Mas Didi ciptakan itu mengangkat potensi kekayaan lokal. Seperti Pantai Klayar, Banyu Langit itu juga Nglanggeran di Gunungkidul dan masih banyak lagi. Tak disangka begitu cepat kehilangan beliau,” ujar dia.
Dilansir dari Wikipedia, Didi Kempot memulai karir sebagai musisi jalanan di Kota Surakarta sejak 1984 hingga 1986. Bermodalkan sebuah ukulele dan kendang, Didi menyusuri jalan-jalan dan keramaian kota hingga menghantarkan dirinya dilirik pada sebuah label industri musik di Jakarta. Pembawaan lagu yang cenderung memiliki karakter ungkapan patah hati ini sukses meningkatkan pamor popularitasnya. Karya yang ia ciptakan bahkan dicintai hingga luar negeri. Terbukti telah beberapa kali dirinya tampil di beberapa negara.
Sementara, salah satu pemerhati dan pelaku budaya di Kebumen, Bambang Eko Susilohadi menyampaikan, Didi Kempot merupakan musisi yang terus berjuang melestarikan budaya ditengah gempuran modernisasi. Mengamati dari kacamata budaya, menurut Bambang, Didi Kempot memiliki karakteristik tersendiri dalam bermusik sehingga dapat diterima seluruh elemen masyarakat.
“Dengan bahasa dan budaya yang dimiliki mampu menjadikan dia Sang Maestro musik khas Indonesia yang Njawani,” paparnya. (K24/Hfd)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















