SENI BUDAYA

BE Susilohadi, ASN yang Mendermakan Jiwanya di Dunia Seni Hingga Menjelang Purna Tugas

1838
×

BE Susilohadi, ASN yang Mendermakan Jiwanya di Dunia Seni Hingga Menjelang Purna Tugas

Sebarkan artikel ini

SRUWENG, Kebumen24.com- Bagi penikmat seni khas Kebumenan, mungkin sudah tidak asing lagi mendengar nama BE Susilohadi. Melalui tangan dinginnya, pria bernama lengkap Bambang Eko Susilohadi itu telah banyak menghasilkan karya seni yang hingga kini tetap lestari.
Saat kebumen24.com berkesempatan mengunjungi kediamanya di Desa Karangsari Kecamatan Sruweng. Bambang, panggilan akrabnya, bercerita telah 27 tahun mengabdi sebagai seorang ASN. Dalam dirinya, mengalir darah seniman yang berasal dari sosok kakeknya sebagai seorang dalang kondang. Namun, sebentar lagi ia memasuki masa pensiun pada Agustus mendatang. Meski demikian, hal tersebut bukanlah suatu penghalang untuk tetap menumbuhkan embrio-embrio kesenian yang dapat diterima dan dinikmati oleh masyarakat Kebumen.

“Sejak kelas empat SD saya suka berbagai kesenian. Mulai ASN 1986, pertama kali tugas di Depdikbudcam Kecamatan Sruweng sampai ditarik ke kabupaten hingga sekarang,” bebernya, Selasa 14 Januari 2020.

Ditengah kesibukannya menjadi ASN sebagai Kepala Seksi Kebudayaan di Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, tidak menyurutkan niat pria kelahiran 1962 itu untuk menghidupi kesenian lokal seperti seni tradisional kuda lumping, jamjaneng, wayang golek. Bahkan, belum lama ini dirinya baru saja menciptakan sebuah karya tari cepetan yang sebelumnya hanya dinikmati oleh sebagain kalangan karena sarat nuansa mistis, dikemasnya sebagai suatu tarian yang dapat dilakukan lintas generasi.

“Saya menjembatani agar tari cepetan booming, waktu HUT PGRI kemarin tari cepetan bisa flashmob satu Alun-alun penuh. Setiap kecamatan sekarang punya minimal enam dari guru yang bisa tari cepetan,” ucapnya.

Berbeda dengan kuda lumping yang selama ini menjamur disetiap pelosok, ia berhasil mengkolaborasikan antara tarian kuda lumping gaya pesisir dengan gaya pager gunung sebagai karya istimewa. Terbukti, dalam kurun waktu lima tahun hasil kerja kerasnya tumbuh dan berkembang.

 “Waktu itu niatnya apa yang dimiliki kita kembangkan, berbeda memang lebih dinamis digerakan. Tapi kekayaan wilayah kebumen bagian utara dan selatan dituangkan dalam kuda lumping,” jelas Bambang.
 

Tidak sedikit prestasi yang pernah ditorehkan untuk mengharumkan nama Kabupaten Kebumen dikancah nasional. Bambang menyebutkan, baru-baru ini ia bersama rekan lain telah berupaya membawa dua kesenian lokal yakni jamjaneng dan tari cepetan untuk diverifikasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan harapan nantinya dapat didukung serta diakui bahwa kesenian tersebut merupakan kekayaan yang dimiliki Kebumen.

 “Sedang diverifikasi. Itu semua milik kita, kalau tidak ada yang ngrumat (melestarikan:red) siapa lagi,” imbuhnya.
 

Berbagai panggung kesenian telah ia lewati, bukan hanya kewajiban sebagai ASN yang membidangi itu. Melainkan, kata Bambang, tanggung jawab moral untuk melestarikan ditengah gerusan budaya barat.

 “Terlepas dari jabatan saya, karena saya cinta dan menikmati seni,” tuturnya.

Wujud mendermakan jiwanya untuk dunia kesenian di Kebumen, Bambang telah banyak membentuk suatu grup kesenian dirumahnya, salah satunya wayang golek yang sedang ia geluti saat ini.

  “Banyak grup kesenian yang telah dilahirkan, seperti wayang golek setiap malam rabu dan sabtu rutin latihan,” pungkasnya. (K24/Hfd)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.