Pendidikan

Belajar Tak Hanya di Ruang Kuliah, Mahasiswa PGMI IAINU Kebumen Pelajari Pendidikan Berwawasan Internasional di Yogyakarta

×

Belajar Tak Hanya di Ruang Kuliah, Mahasiswa PGMI IAINU Kebumen Pelajari Pendidikan Berwawasan Internasional di Yogyakarta

Sebarkan artikel ini

SLEMAN, Kebumen24.com  – Pengalaman belajar berbeda dirasakan 16 mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAINU Kebumen. Mereka tidak hanya mempelajari teori pendidikan dari ruang kuliah, tetapi juga melihat secara langsung praktik pendidikan berwawasan internasional melalui kegiatan International Education Field Study di Afkaaruna Islamic School Yogyakarta, Kamis (3/9/2026).

Sekolah Islam berbasis pesantren yang berada di Jalan Kaliurang KM 12,5 atau Jalan Pelem Raya No. 12, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersebut menjadi tempat mahasiswa memperluas perspektif tentang pengelolaan pendidikan, penerapan kurikulum internasional, hingga budaya belajar siswa.

Kegiatan yang berlangsung sekitar tiga setengah jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.30 WIB, itu didampingi Nadia Raifah Nawa Kartika, M.Pd., selaku dosen Mata Kuliah International Education Study.

Kunjungan akademik tersebut tidak sekadar menjadi agenda observasi. Mahasiswa mendapat kesempatan berdiskusi, menggali informasi tentang manajemen sekolah, serta mengamati secara langsung proses pembelajaran dari kelas 1 hingga kelas 6.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai profil dan pengelolaan Afkaaruna Islamic School. Materi disampaikan Ummi Hasanah, S.Ag., M.Hum., selaku Kepala Madrasah, bersama Sindhy Sapta Yulisakri, Direktur Operasional, serta Puppis Mirziawan Dwiandrymelda, S.T., Direktur HRD.

Para mahasiswa diajak mengenal lebih jauh perjalanan berdirinya sekolah, nilai-nilai yang dikembangkan, sistem pengelolaan lembaga, hingga berbagai unsur yang menjadi fondasi dalam membangun lingkungan pendidikan berkualitas.

Diskusi kemudian mengarah pada salah satu hal yang menarik perhatian mahasiswa, yakni penerapan dan integrasi kurikulum nasional dengan Cambridge International Curriculum.

Pembahasan tidak berhenti pada persoalan kurikulum. Mahasiswa juga menggali berbagai aspek lain, mulai dari kompetensi dan pengelolaan sumber daya manusia guru, budaya belajar siswa, manajemen sekolah, hingga strategi menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan peserta didik.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana wawasan pendidikan internasional tetap dipadukan dengan nilai-nilai keIndonesiaan. Orientasi global yang diterapkan sekolah tidak berarti mengesampingkan karakter, budaya, dan nilai luhur bangsa.

Bagi mahasiswa PGMI IAINU Kebumen, pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa pendidikan berwawasan internasional dapat berjalan berdampingan dengan penguatan karakter dan identitas kebangsaan.

Pendidikan global, dengan demikian, bukan sekadar kemampuan menggunakan bahasa asing atau menerapkan kurikulum internasional. Lebih dari itu, pendidikan juga perlu membentuk peserta didik yang memiliki karakter kuat dan tetap memahami akar budaya serta lingkungan sosialnya.

Usai mengikuti sesi pemaparan dan diskusi, mahasiswa PGMI IAINU Kebumen kemudian turun langsung ke ruang-ruang kelas.

Mereka dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan observasi pembelajaran dari kelas 1 hingga kelas 6. Kesempatan tersebut menjadi bagian yang paling dinanti karena mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana teori pendidikan yang mereka pelajari di bangku kuliah diterapkan dalam situasi nyata.

Salah satu hal yang mencuri perhatian mahasiswa adalah keberanian dan kepercayaan diri para siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Bahasa Inggris digunakan secara intensif dalam proses pembelajaran maupun interaksi di lingkungan sekolah. Kondisi tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang bagaimana lingkungan pendidikan dapat dibangun untuk mendorong siswa terbiasa berkomunikasi dan berinteraksi dalam bahasa internasional sejak dini.

Selain kemampuan bahasa, mahasiswa juga melihat keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, kreativitas dalam kegiatan kelas, serta keberanian mereka ketika berinteraksi dengan orang-orang baru.

Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran tersendiri bagi calon guru madrasah ibtidaiyah yang nantinya akan berhadapan dengan karakter dan kebutuhan peserta didik yang semakin beragam.

Bagi mahasiswa semester akhir, kegiatan International Education Field Study menjadi momentum penting untuk memperluas pemahaman sebelum terjun ke dunia profesional.

Pengalaman di Afkaaruna Islamic School menunjukkan bahwa tugas seorang guru tidak sebatas menyampaikan materi pelajaran. Seorang pendidik juga dituntut memahami budaya belajar, membangun komunikasi yang efektif, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang terus berkembang.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat membandingkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan praktik pendidikan di lapangan. Mereka menyaksikan secara langsung bagaimana sekolah dikelola, kurikulum dikembangkan, guru menjalankan perannya, dan siswa dibentuk dalam lingkungan belajar yang berorientasi pada wawasan global.

Kunjungan itu pun meninggalkan pesan penting: menjadi pendidik berkualitas membutuhkan wawasan yang luas, kemampuan beradaptasi, dan karakter yang kuat.

Dari Yogyakarta, para mahasiswa PGMI IAINU Kebumen tidak hanya membawa pulang dokumentasi kegiatan. Mereka juga membawa pengalaman dan inspirasi untuk menjadi calon guru yang kompeten, kreatif, adaptif terhadap perubahan, memiliki wawasan internasional, sekaligus tetap mampu menanamkan nilai-nilai keIndonesiaan kepada generasi penerus.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.