Pendidikan

AI Makin Canggih, MAN 1 Kebumen Ajarkan Siswa Menulis Berita dan Menangkal Hoaks

×

AI Makin Canggih, MAN 1 Kebumen Ajarkan Siswa Menulis Berita dan Menangkal Hoaks

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Membekali generasi muda agar cerdas memilah informasi, terampil menulis berita, dan kreatif memproduksi konten digital menjadi fokus pelatihan jurnalistik yang digelar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kebumen. Kegiatan ini berlangsung di aula MAN 1 Kebumen, Jumat (23/10/2026).

Mengusung tema “Mencetak Jurnalis Muda Cerdas, Cakap Bicara, Kreatif, Beretika, dan Adaptif di Era AI”, pelatihan tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 23–24 Oktober 2026. Kegiatan ini dirancang untuk mengasah keterampilan jurnalistik siswa melalui perpaduan materi teori dan praktik secara langsung.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala MAN 1 Kebumen, H. Muhiban, S.Ag., M.Pd.I. Melalui kegiatan ini, madrasah berharap dapat mendorong lahirnya generasi jurnalis muda yang mampu menyampaikan informasi secara menarik, akurat, dan bertanggung jawab.

Muhiban menyampaikan, pelatihan jurnalistik menjadi salah satu sarana bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan literasi digital, serta memanfaatkan teknologi secara positif di tengah derasnya arus informasi.

Menurutnya, keterampilan menulis dan berbicara di depan publik perlu diimbangi dengan kreativitas, pemahaman etika, serta tanggung jawab dalam menyebarkan informasi.

“Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir jurnalis muda yang tidak hanya terampil menulis dan berbicara di depan publik, tetapi juga mampu menghasilkan konten kreatif dengan tetap menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab,” ujarnya.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi dasar-dasar jurnalistik, teknik penulisan berita, dan etika bermedia sosial yang disampaikan oleh M. Tohri, Pimpinan Media Kebumen24.com.

Dalam pemaparannya, Tohri menegaskan bahwa pelajar tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan menyampaikan fakta secara bertanggung jawab.

Perkembangan teknologi digital, menurutnya, memang membuat informasi semakin mudah diproduksi dan disebarluaskan. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kecermatan dalam memverifikasi informasi agar generasi muda tidak terjebak dalam penyebaran hoaks maupun konten yang menyesatkan.

“Jangan hanya menjadi penonton informasi. Jadilah pencari fakta dan pembawa informasi yang bermanfaat,” menjadi pesan yang ditekankan Tohri kepada para peserta.

Ia juga menguraikan lima kemampuan penting yang perlu dimiliki jurnalis muda, yakni cerdas dalam berpikir kritis dan memeriksa fakta, cakap berkomunikasi, kreatif mengemas informasi, beretika dalam berkarya, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Peserta kemudian diperkenalkan pada tahapan kerja jurnalistik, mulai dari menentukan topik, melakukan observasi, mewawancarai narasumber, mengumpulkan data, menulis berita, hingga menyunting naskah sebelum dipublikasikan.

Dalam praktik penulisan, siswa mempelajari unsur 5W+1H, meliputi what (apa), who (siapa), when (kapan), where (di mana), why (mengapa), dan how (bagaimana). Unsur tersebut menjadi dasar untuk menggali informasi secara lengkap dan menyajikannya kepada pembaca.

Peserta juga mempelajari struktur berita yang meliputi judul, teras berita, isi, dan bagian penutup. Mereka diarahkan untuk mengutamakan fakta, menyusun informasi berdasarkan tingkat kepentingannya, serta menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.

Tak kalah penting, materi etika jurnalistik mengajak siswa memahami prinsip akurasi, keberimbangan, penghormatan terhadap privasi, serta larangan plagiarisme dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Dalam konteks penggunaan AI, Tohri menjelaskan bahwa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, dan mengembangkan ide konten. Meski demikian, hasil yang dihasilkan AI tidak boleh langsung dipublikasikan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

“AI merupakan alat bantu. Setiap informasi, data, dan kutipan yang dihasilkan tetap harus diperiksa kebenarannya sebelum dipublikasikan,” tegasnya.

Usai menerima materi dan mengikuti sesi tanya jawab, peserta melanjutkan kegiatan dengan membentuk tim jurnalistik dan berlatih menulis berita. Melalui praktik tersebut, siswa diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh menjadi karya jurnalistik yang faktual, menarik, dan mudah dipahami pembaca.

Memasuki hari kedua, Sabtu (24/10/2026), pelatihan akan berlanjut dengan materi reportase, teknik pengambilan gambar foto dan video, penyuntingan video pendek menggunakan aplikasi CapCut atau Adobe Premiere, serta praktik siaran langsung atau live streaming.

Materi lanjutan disampaikan oleh Hantoro Wibowo, wartawan Kompas TV. Para peserta berkesempatan mempraktikkan proses produksi konten audiovisual, mulai dari pengambilan gambar hingga penyuntingan dan penyajian informasi.(K24/*)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.