KEBUMEN, Kebumen24.com – Pendopo Kabumian Kebumen berubah menjadi ruang diplomasi budaya dan ilmiah internasional saat Pemerintah Kabupaten Kebumen menggelar Gala Dinner Summer School Geokonservasi, Jumat malam (8/5/2026). Dari panggung budaya hingga diskusi ilmiah, malam itu menjadi penanda kuat bahwa Kebumen tengah menapaki jalan besar menuju pusat unggulan geokonservasi dunia.
Tamu dari berbagai negara seperti Pakistan, Aljazair, Jepang, Malaysia hingga Prancis tampak menikmati suguhan budaya khas Kebumen. Penampilan Tari Lawet dari Sanggar Keysa dan harmoni paduan suara SMAN 1 Kebumen sukses memukau para undangan yang hadir. Nuansa hangat dan penuh persahabatan begitu terasa di tengah pertemuan para akademisi, pemerintah, dan mahasiswa internasional tersebut.
Acara ini turut dihadiri Bupati Kebumen Lilis Nuryani, Wakil Bupati Zaeni Miftah, anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika, jajaran OPD, serta akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Sebelas Maret (UNS).
Hadir pula Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Internasionalisasi dan Informasi UNS Prof. Irwan Trinugroho, S.E., M.Sc., Ph.D, Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian dan Administrasi ITB Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn, Dekan Fakultas Ilmu Bumi dan Teknologi ITB Dr. techn. Dudy Darmawan Wijaya, S.T., M.Sc, serta Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS Dr. Didik Gunawan Suharto, S.Sos., M.Si.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Bumi dan Teknologi ITB Dr. techn. Dudy Darmawan Wijaya mengungkapkan bahwa hubungan ITB dengan Karangsambung bukan sekadar hubungan akademik, melainkan telah menjadi bagian dari perjalanan emosional para ilmuwan kebumian.
“Bagi kami, Kebumen khususnya Karangsambung sudah bukan lagi sekadar ruang intelektual, tetapi telah menjadi ruang batin, emosional bahkan spiritual. Kami datang ke sini bukan hanya untuk belajar geologi, tetapi juga belajar dari masyarakat dan kearifan lokalnya,” ujar Dudy.
Menurutnya, kawasan Karangsambung merupakan laboratorium ilmu kebumian yang sangat langka bahkan mungkin satu-satunya di dunia. Karena itu, melalui program summer school, pihaknya ingin mengenalkan potensi warisan geologi Kebumen kepada dunia internasional.
Ia menegaskan, pengembangan geopark tidak hanya berbicara soal konservasi, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Mulai dari sektor UMKM, kuliner lokal hingga bisnis perjalanan wisata diharapkan ikut tumbuh melalui pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
“Kita ingin daerah ini maju secara fisik, tetapi tetap lestari secara ekologi. Pengembangan geopark harus memberikan efek domino bagi masyarakat bawah,” jelasnya.
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika menilai Summer School Geokonservasi menjadi tonggak penting bagi Kebumen dalam memperkuat posisi sebagai kawasan geopark berkelas dunia.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan summer school pertama di Indonesia yang secara serius mengangkat isu geokonservasi dan pembangunan berkelanjutan berbasis riset serta pendidikan.
“Kami menawarkan laboratorium pendidikan bernilai tinggi kepada dunia. Harapannya, Geopark Global UNESCO Kebumen bisa menjadi Center of Excellence geokonservasi di Asia Tenggara,” tegas dr. Reza.
Di sisi lain, Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kebumen sebagai tuan rumah kegiatan internasional tersebut.
Ia menilai tema “Inovasi Digital untuk Mendorong Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui Kolaborasi” sangat relevan dengan tantangan global saat ini.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kebumen, saya mengucapkan selamat datang. Merupakan sebuah kehormatan bagi daerah kami menjadi rumah bagi para akademisi dan kaum muda berbakat dari berbagai negara,” ujar Lilis.
Bupati juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus terbuka terhadap inovasi, riset, dan pertukaran ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat bagi pembangunan daerah.
Ia pun mengajak seluruh peserta internasional untuk menikmati keindahan alam dan kekayaan budaya Kebumen, mulai dari Pantai Menganti, Goa Petruk hingga Benteng Van Der Wijck.
“Saya berharap sepulang dari sini, Anda semua membawa ilmu, kenangan manis dan cerita indah tentang Kebumen ke negara masing-masing,” ucapnya.
Tak hanya meninggalkan jejak akademik, kegiatan Summer School Geokonservasi 2026 juga menghasilkan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Dalam gala dinner tersebut, para mahasiswa internasional menyerahkan rekomendasi kebijakan (policy brief) kepada Pemerintah Kabupaten Kebumen.
Perwakilan mahasiswa asal Pakistan, Muhammad Aarif, menyampaikan bahwa policy brief tersebut memuat hasil observasi lapangan terkait pembangunan berkelanjutan yang tetap menjunjung tinggi kearifan lokal masyarakat Kebumen.
“Kami berharap rekomendasi ini bisa menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam,” katanya.
Suasana keakraban semakin terasa ketika para peserta internasional membagikan pengalaman mereka selama berada di Kebumen. Muhammad Saif, peserta asal Pakistan, mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat dan pengalaman budaya yang didapatkan selama mengikuti program tersebut.
“Ini pertama kalinya saya mencoba membuat batik dan itu pengalaman yang luar biasa. Kami merasa seperti di rumah sendiri di Kebumen,” ungkapnya antusias.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian UNS Dr. Likha Sari Anggreni, S.Sos., M.Soc.Sc menambahkan, keterlibatan berbagai pihak internasional dalam program ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam pengembangan daerah berbasis komunitas dan transformasi digital.
Malam itu, Pendopo Kabumian tidak sekadar menjadi lokasi jamuan makan malam. Lebih dari itu, ia menjadi saksi lahirnya semangat kolaborasi global demi menjaga bumi, melestarikan warisan geologi, sekaligus membawa nama Kebumen semakin dikenal dunia.(K24/ILHAM).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















