SEJARAH

Sejarah Kecamatan Pejagoan: Benteng Barat, Pusat Industri, hingga Kawasan Pendidikan di Kebumen

×

Sejarah Kecamatan Pejagoan: Benteng Barat, Pusat Industri, hingga Kawasan Pendidikan di Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Kecamatan Pejagoan memiliki jejak sejarah panjang yang tak terpisahkan dari perjalanan Kabupaten Kebumen. Letaknya yang strategis, hanya dipisahkan oleh Sungai Luk Ulo dari pusat kota, menjadikan wilayah ini sejak dahulu dikenal sebagai “benteng barat” yang berperan penting dalam pertahanan, logistik, hingga perkembangan ekonomi dan pendidikan.

Secara etimologi, nama Pejagoan diyakini berasal dari kata “jago”. Dalam legenda lokal, wilayah ini dahulu menjadi tempat berkumpulnya para “jagoan” atau pendekar yang setia kepada penguasa setempat, seperti trah Kolopaking atau Arungbinang. Mereka bertugas menjaga wilayah perbatasan barat pusat pemerintahan dari berbagai ancaman luar.

Peran strategis Pejagoan semakin terlihat pada masa kolonial hingga revolusi kemerdekaan. Wilayah ini menjadi salah satu titik penting pertahanan militer. Bahkan, terdapat pangkalan militer yang digunakan sebagai pusat koordinasi para pejuang Republik Indonesia dalam menghadapi pergerakan tentara Belanda dari arah barat, seperti Gombong dan Sruweng. Jembatan Renville di Pejagoan menjadi saksi bisu mobilisasi pasukan dan distribusi logistik perang pada masa itu.

Tak hanya dikenal sebagai kawasan militer, Pejagoan juga memiliki sejarah ekonomi yang kuat. Sejak abad ke-19, wilayah ini berkembang sebagai sentra industri keramik, genteng, dan batu bata. Hal ini didukung oleh kualitas tanah liat hasil endapan aluvial Sungai Luk Ulo yang sangat baik. Desa-desa seperti Pejagoan dan Kedawung menjadi pusat produksi yang memasok kebutuhan pembangunan gedung-gedung pemerintah hingga infrastruktur perkeretaapian pada masa Hindia Belanda.

Memasuki era modern, Pejagoan mengalami transformasi signifikan menjadi kawasan pendidikan. Berdirinya berbagai perguruan tinggi dan sekolah tinggi menjadikan kecamatan ini sebagai salah satu pusat intelektual di Kebumen. Perubahan ini turut menggeser struktur ekonomi masyarakat dari sektor agraris dan industri menuju sektor jasa dan pendidikan.

Selain itu, Pejagoan juga memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan UNESCO Global Geopark Kebumen. Wilayah ini menjadi pintu masuk menuju kawasan geologi Karangsambung yang terkenal dengan batuan purbanya. Aliran Sungai Luk Ulo di Pejagoan memperlihatkan proses sedimentasi modern yang kerap dijadikan objek penelitian ilmiah, sekaligus menjadi pembanding dengan formasi batuan purba di wilayah utara.

Secara geologis, Pejagoan juga dikenal sebagai kawasan dataran banjir yang subur. Kondisi ini menjelaskan mengapa wilayah ini telah lama menjadi pusat permukiman manusia sejak zaman dahulu.

Sejumlah situs bersejarah dan ikonik masih dapat ditemukan di Pejagoan hingga kini. Di antaranya kompleks militer dengan bangunan tua bergaya kolonial, sentra genteng legendaris seperti Genteng AB Sokka, Jembatan Luk Ulo yang menjadi penghubung vital wilayah barat dan timur Kebumen, serta Pasar Pejagoan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Saat ini, Kecamatan Pejagoan membawahi 13 desa, yaitu Pejagoan, Aditirto, Kedawung, Kebagoran, Karangpoh, Jemur, Peniron, Pereng, Pengaringan, Prigi, Watulawang, Logandu, dan Kedungpuji.

Dengan perpaduan sejarah militer, kekuatan industri, hingga perkembangan pendidikan, Pejagoan menjadi salah satu wilayah yang memiliki peran penting dalam membentuk identitas Kabupaten Kebumen dari masa ke masa.

Sumber:
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.