KEBUMEN, Kebumen24.com – Kecamatan Padureso memiliki posisi yang unik dalam sejarah Kabupaten Kebumen. Terletak di ujung timur laut wilayah, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonosobo dan Purworejo. Secara historis, Padureso mengalami transformasi signifikan, dari kawasan perbukitan terpencil menjadi pusat pengairan vital bagi wilayah Kebumen bagian timur.
Sejak masa lampau, Padureso dikenal sebagai wilayah perbukitan yang berfungsi sebagai batas alami antara pengaruh Kadipaten Roma (Karanganyar) dan Karesidenan Bagelen (Purworejo). Kondisi geografis yang berbukit menjadikan kawasan ini sebagai benteng alami yang sulit ditembus, termasuk oleh patroli kolonial pada masa penjajahan. Selain itu, letaknya yang berada di hulu sungai membuat masyarakat setempat memiliki keterikatan kuat dengan kelestarian hutan di wilayah pegunungan utara.
Perubahan besar terjadi pada era modern, tepatnya antara tahun 1982 hingga 1988, dengan pembangunan Waduk Wadaslintang. Meskipun bendungan utama berada di perbatasan Kebumen dan Wonosobo, sebagian besar wilayah genangan serta infrastruktur pendukungnya berada di kawasan Padureso. Proyek ini membawa dampak besar, termasuk relokasi sejumlah desa atau yang dikenal dengan istilah bedol desa, yang menjadi bagian penting dalam sejarah migrasi internal masyarakat setempat.
Keberadaan Waduk Wadaslintang kemudian menjadi urat nadi pengairan bagi ribuan hektare lahan pertanian di Kebumen timur, meliputi wilayah seperti Prembun, Mirit, hingga Bonorowo. Tak hanya itu, waduk ini juga berperan dalam penyediaan energi melalui sistem Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Secara administratif, Kecamatan Padureso resmi berdiri pada tahun 2001 sebagai hasil pemekaran dari Kecamatan Prembun. Pemekaran ini dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan publik, mengingat perbedaan kondisi geografis antara Prembun yang berupa dataran rendah dan Padureso yang didominasi wilayah perbukitan, serta jarak yang cukup jauh antarwilayah.
Selain itu, Sungai Badegolan yang mengalir di wilayah Padureso memiliki nilai historis tersendiri. Sebelum adanya waduk, sungai ini dimanfaatkan sebagai sumber irigasi tradisional serta jalur transportasi kayu dari kawasan hutan utara. Kini, aliran sungai di bawah bendungan menjadi bagian dari daya tarik wisata sekaligus mendukung sistem energi regional.
Dari sisi budaya, masyarakat Padureso memiliki karakter khas sebagai perpaduan budaya Kebumen dan budaya pegunungan Wonosobo. Meski berada di wilayah perbukitan, daerah ini dikenal dengan hasil perkebunan seperti durian dan berbagai buah tropis yang sejak dahulu telah diperdagangkan hingga ke pasar-pasar di wilayah Prembun.
Saat ini, Kecamatan Padureso membawahi sembilan desa, yaitu Padureso, Balingasal, Kaligubug, Kalijering, Merden, Pejengkolan, Rahayu, Sendangdalem, dan Sidototo.
Dengan sejarah panjang dan potensi yang dimiliki, Padureso kini tidak hanya menjadi wilayah penyangga, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan energi di Kabupaten Kebumen.
Sumber: Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kebumen melalui laman resmi: https://perpusda.kebumenkab.go.id/index.php/web/post/3839/sejarah-kecamatan-padureso
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.














