SEJARAH

Menguak Sejarah Tari Dayak di Desa Krakal Kebumen, Berawal dari Perantauan hingga Jejak Laskar AOI Somalangu

×

Menguak Sejarah Tari Dayak di Desa Krakal Kebumen, Berawal dari Perantauan hingga Jejak Laskar AOI Somalangu

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di tengah perkembangan zaman, kesenian tradisional masih menjadi bagian penting dari identitas masyarakat. Hal itu tercermin dari keberadaan kesenian Tari Dayak di Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, yang menyimpan kisah panjang tentang perantauan, perpaduan budaya, hingga jejak perjuangan pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi masyarakat setempat, kesenian ini bukan sekadar hiburan dalam berbagai kegiatan desa. Tari Dayak juga menjadi warisan leluhur yang merekam perjalanan para pendahulu dalam merawat tradisi, mempererat persaudaraan, dan mewariskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi berikutnya.

Berdasarkan penuturan para sesepuh dan pegiat sejarah setempat, kesenian tersebut mulai berkembang setelah seorang warga Desa Krakal bernama Kusen pulang dari perantauan di Kalimantan. Ia kemudian memperkenalkan seni bela diri dan gerakan tari yang dikenalnya selama berada di tanah Borneo kepada masyarakat di kampung halamannya.

Kisah Tari Dayak di Desa Krakal bermula dari sosok Kusen, warga Dukuh Pagerkemiri. Setelah kembali dari Kalimantan, ia membawa pengetahuan mengenai seni bela diri dan tradisi Dayak untuk diperkenalkan kepada masyarakat setempat.

Kusen kemudian menikah dengan Asiyah, seorang janda asal Dukuh Jatiwera, Desa Krakal. Dari lingkungan inilah ia mulai mengajarkan keterampilan tersebut kepada warga, termasuk Sobari dan Jahri beserta sejumlah warga lainnya.

Dalam perkembangannya, kesenian ini tidak hanya menjadi sarana belajar seni bela diri, tetapi juga berkembang sebagai kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat lintas generasi.

Salah satu saksi sejarah yang masih mengingat perjalanan kesenian tersebut adalah Wasilan, yang kini berusia 86 tahun. Ia menuturkan, Tari Dayak telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama ketika warga menggelar latihan maupun kegiatan peringatan hari kemerdekaan.

“Ketika ada latihan maupun kegiatan desa seperti perayaan 17 Agustus, kesenian ini selalu dilibatkan. Perjalanannya panjang dan melibatkan banyak tokoh lokal yang berdedikasi tinggi, tidak lain tidak bukan karena kita diharuskan untuk nguri-uri kebudayaan,” kenang Wasilan.

Menurut penuturan para sesepuh, pada masa awal perkembangannya, kelompok kesenian ini juga memiliki keterkaitan dengan Pasukan Angkatan Oemat Islam (AOI) Somalangu, yang dipimpin oleh Romo Pusat, Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman Al-Hasani.

Keterkaitan tersebut menjadi salah satu bagian sejarah lokal yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut, terutama dalam memahami hubungan antara kehidupan masyarakat, tradisi seni bela diri, dan dinamika perjuangan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Keunikan Tari Dayak di Desa Krakal tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada perpaduan unsur seni bela diri yang membentuk karakter pertunjukannya.

Dalam tradisi yang berkembang di desa tersebut, terdapat dua aliran yang dikenal masyarakat, yakni Kuntau Dayak dan Konto Jawa.

Kuntau Dayak diperkenalkan oleh Kusen setelah kembali dari Kalimantan. Aliran ini menjadi salah satu unsur utama dalam gerakan bela diri yang kemudian dipelajari oleh warga Desa Krakal.

Sementara itu, aliran Konto Jawa diajarkan oleh Mario, seorang maestro asal Solo yang menikah dengan warga Dukuh Jatiwera. Semasa hidupnya, Mario dikenal sebagai penunggang kuda yang andal sekaligus pelatih kuda yang disegani. Ia juga disebut memiliki rekam jejak dalam berbagai perlombaan berkuda.

Salah satu muridnya yang menekuni aliran Konto Jawa adalah Saiful Bahri, warga Dukuh Jatiwera. Hingga kini, Saiful masih hidup dan menjadi salah satu orang yang dapat menuturkan pengalaman serta pengetahuannya mengenai perjalanan seni bela diri tersebut.

Perpaduan kedua aliran itu menjadi ciri khas kesenian Tari Dayak di Desa Krakal. Selain menunjukkan keterampilan gerak dan ketangkasan, tradisi tersebut juga menggambarkan pertemuan budaya dari wilayah berbeda yang kemudian tumbuh di lingkungan masyarakat Kebumen.

Selain gerakan tari dan pencak silat, kesenian Dayak di Desa Krakal memiliki ciri khas lain, yakni penggunaan musik tradisional Jamjaneng sebagai pengiring pertunjukan.

Menurut penuturan para pelaku seni setempat, sebagian tokoh awal Tari Dayak juga berasal dari lingkungan kelompok kesenian Jamjaneng. Kedekatan tersebut membuat kedua kesenian berkembang berdampingan dan saling melengkapi.

Tabuhan alat musik, lantunan vokal, serta gerakan para pemain menciptakan pertunjukan yang tidak hanya menonjolkan unsur ketangkasan, tetapi juga menghadirkan nuansa kebudayaan lokal yang kuat.

Kombinasi tersebut menjadi identitas tersendiri bagi Tari Dayak Desa Krakal. Di tengah beragam hiburan modern, keberadaan Jamjaneng dan Tari Dayak sekaligus menjadi pengingat bahwa seni tradisional dapat terus hidup ketika masyarakat memberikan ruang bagi perkembangannya.

Perjalanan panjang kesenian ini tidak terlepas dari peran para tokoh yang secara konsisten menjaga keberlangsungannya.

Saat ini, koordinasi dan kepengurusan kelompok Tari Dayak Desa Krakal dipegang oleh Amad Mudakir dan Udin, yang berasal dari wilayah Dukuh Kebonjanggleng. Sementara itu, sebagian besar personel aktif yang merawat kesenian tersebut berasal dari Dukuh Jatiwera.

Wasilan menyebut, hingga kini terdapat sekitar 30 personel aktif yang masih terlibat dalam kegiatan kesenian Tari Dayak.

Jumlah tersebut menjadi bukti bahwa tradisi yang dirintis para pendahulu masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat. Regenerasi juga terus diupayakan agar kesenian ini tidak berhenti pada generasi sesepuh.

Semangat melanjutkan warisan tersebut turut dirasakan Teguh Haryanto, salah satu personel aktif sekaligus perwakilan generasi muda dari Dukuh Jatiwera.

Menurut Teguh, keberadaan Tari Dayak dan iringan Jamjaneng bukan hanya menyangkut pelestarian seni, melainkan juga tanggung jawab generasi muda dalam menjaga identitas budaya desa.

“Sebagai generasi muda di Dukuh Jatiwera, kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan apa yang telah dirintis oleh para leluhur. Tari Dayak dan iringan Jamjaneng di Desa Krakal bukan sekadar warisan seni, melainkan simbol kebersamaan, ketangguhan, dan identitas kami. Kami siap mengawal agar kesenian ini tetap lestari dan dicintai oleh anak-anak muda seusia kami,” ungkap Teguh.

Pegiat sejarah Desa Krakal, M. Amin Fitriyadi, M.Pd., menilai pelestarian kesenian tradisional perlu berjalan beriringan dengan upaya mendokumentasikan sejarah lokal.

Menurutnya, perjalanan Tari Dayak yang dirintis oleh Kusen, Mario, serta para tokoh pendahulu lainnya merupakan bagian dari identitas masyarakat yang perlu diwariskan secara berkelanjutan.

Ia menekankan, sejarah desa bukan sekadar cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, ketangguhan, kebersamaan, dan semangat kebangsaan yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.

“Kebudayaan dan sejarah di desa kita sendiri bukanlah sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi jati diri masyarakat Desa Krakal. Di dalam kesenian Dayak dan Jamjaneng ini terkandung nilai gotong royong, ketangguhan mental, dan semangat nasionalisme yang diwariskan oleh para pejuang laskar Islam terdahulu. Merawat sejarah lokal berarti merawat akar agar generasi masa depan tidak tercerabut dari identitas budayanya sendiri,” tutur Amin.

Ia berharap, keberadaan para sesepuh dan pelaku seni yang masih hidup dapat menjadi sumber penting untuk menghimpun cerita, mencatat nama-nama tokoh, serta mendokumentasikan perkembangan kesenian tersebut dari masa ke masa.

Pendokumentasian ini penting agar sejarah yang selama ini diwariskan secara lisan dapat dipelajari oleh generasi muda sekaligus menjadi bahan pengembangan kebudayaan di Desa Krakal.

Kisah Tari Dayak Desa Krakal menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu lahir dari satu tradisi yang berdiri sendiri. Perjalanan perantauan, pertemuan berbagai aliran seni bela diri, iringan Jamjaneng, serta keterlibatan masyarakat telah membentuk karakter kesenian yang bertahan hingga sekarang.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.