KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tambaksari, yang berada di Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang bermula dari pembukaan hutan pada akhir abad ke-19. Kisah berdirinya desa ini tidak lepas dari peran seorang tokoh perintis bernama Suromiharjo.
Berdasarkan catatan sejarah desa, pada tahun 1897 Suromiharjo yang berasal dari Dukuh Jarakan, Desa Adiwarno, Kecamatan Buayan, mulai membuka lahan di wilayah yang saat itu masih berupa hutan dan belum berpenghuni. Lahan tersebut kemudian diolah menjadi area pertanian dan diberi nama Desa Jaraksari, yang diambil dari nama asal daerahnya, yakni Jarakan.
Seiring perkembangan, wilayah pertanian diperluas ke arah timur. Daerah tersebut kemudian dinamai Dukuh Tambaksari karena banyaknya rawa atau tambak yang terdapat di wilayah tersebut. Ekspansi kembali dilakukan ke arah timur hingga ditemukan seekor bulus (sejenis kura-kura air tawar) berukuran besar saat pembukaan lahan. Dari peristiwa tersebut, wilayah itu kemudian dinamakan Dukuh Bulus.
Pada masa kepemimpinan Suromiharjo, Desa Jaraksari terdiri dari tiga dukuh, yaitu Dukuh Jaraksari, Dukuh Tambaksari, dan Dukuh Bulus. Ia menjadi kepala desa pertama yang memimpin wilayah tersebut.
Namun, pada tahun 1910, Suromiharjo wafat dan kepemimpinan desa dilanjutkan oleh H. Dulrohim. Di bawah kepemimpinan H. Dulrohim, terjadi perubahan penting dalam struktur desa. Pusat pemerintahan desa dipindahkan ke Dukuh Tambaksari, dan nama Desa Jaraksari resmi diubah menjadi Desa Tambaksari, nama yang digunakan hingga saat ini.
Hingga kini, Desa Tambaksari tetap terdiri dari tiga dukuh utama, yakni Dukuh Jaraksari, Dukuh Tambaksari, dan Dukuh Bulus. Sejarah ini menjadi bagian penting dari identitas dan perjalanan panjang desa dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Sumber: Website Resmi Desa Tambaksari
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















