KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah unik yang sebagian besar bersumber dari cerita turun-temurun, karena belum didukung oleh data ilmiah atau prasasti kuno. Nama “Kalibangkang” berasal dari gabungan kata “Kali” yang berarti mata air dan “Bangkang”, sejenis hewan keong yang hidup di sungai.
Terdapat dua skenario tentang asal-usul penduduk desa ini. Skenario pertama menyebutkan bahwa nenek moyang warga Kalibangkang kemungkinan merupakan pelarian dari kerajaan Hindu/Budha terakhir. Mereka hidup sebagai komunitas priyayi yang dikenal sakti, seperti Mbah Jenggot, Mbah Mandrakiman, dan Mbah Tagati, yang memimpin warga tanpa sistem kepala desa pada zamannya.
Skenario kedua menyebutkan bahwa nenek moyang datang dari daerah Puring untuk menyebarkan Agama Islam. Mereka juga termasuk golongan priyayi dan hidup dari zakat para pengikutnya. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Desa Kalibangkang sejak dahulu dikenal sebagai desa yang Islami dan memiliki banyak orang pintar.
Pendatang dari Puring ini dikenal sebagai Mbah H. Tohir, atau Mbah Jigar, yang sekaligus menjadi Kepala Desa pertama. Pada awal terbentuknya desa, hanya terdapat sekitar 40 rumah. Dari dua skenario legenda ini, terbentuk dua garis generasi di desa: generasi pra-Mbah Jigar dan generasi Mbah Jigar. Saat ini, keturunan Mbah Jigar tersebar luas di Kecamatan Ayah, wilayah Indonesia lainnya, bahkan hingga Malaysia.
Berikut daftar Kepala Desa Kalibangkang dari masa ke masa:
- H. Tohir (Mbah Jigar)
- Karyanom
- H. Dulsalam
- H. Dulsalam
- Karyani
- Sanmurtama
- Abdul Wachid (1945–1988)
- Akhmad Bakhrun (1988–1998)
- Hadi Tarmono (1999–2008)
- Rokhmanudin (2008–sekarang)
Desa Kalibangkang tetap mempertahankan tradisi religius dan kecerdikan warganya, menjadikannya desa yang dikenal karena kearifan lokal dan sejarahnya yang unik.
Sumber: Kalibangkang Kecamatan Ayah
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















