KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Argopeni, yang berada di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang tak lepas dari tokoh pendirinya, Ki Ranantika, yang menjadi lurah pertama desa ini. Desa Argopeni terbentuk dari penggabungan dua kelurahan, yaitu Jemenar dan Mejingklak, sekitar tahun 1921.
Kelurahan Jemenar sudah ada sejak 1820 dengan lurah pertama Ki Naya Leksana, diikuti Udaleksana dan Jayawangsa (1902–1921). Sedangkan Mejingklak ada sekitar 1840–1940, dengan lurah pertama Mertawijaya hingga Yasawijaya. Penggabungan ini terjadi karena pada masa itu, pemerintahan di bawah Kompeni Belanda memberlakukan kebijakan yang menyulitkan masyarakat, termasuk para pejuang anti-penjajahan. Untuk memudahkan pengawasan dan pelayanan, kedua kelurahan digabung menjadi Desa Argopeni.
Ki Ranantika memimpin desa dari 1921 hingga 1944, digantikan oleh San Muhid hingga 1985. Sejak 1986, kepala desa mulai dipilih secara demokratis, dimulai oleh Sikin Chaerudin, diikuti oleh Bikin Chaerudin, Waluyo, Waris Ahmad Zaeni, hingga Tursino, SH (2017–2023). Saat ini, kepala desa terpilih adalah Samijo, yang memulai masa jabatannya pada November 2023 dan akan menjabat hingga 2029.
Secara geografis, Desa Argopeni terletak di kawasan perbukitan kapur Karst Gombong Selatan, dengan ketinggian 0–341 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini memiliki pantai berkarang di sisi barat hingga selatan, dan beberapa sungai seperti Jemenar, Majingklak, dan Sruwuk.
Desa ini juga memiliki potensi wisata alam yang memikat, antara lain Pantai Pedalen, Pantai Wedi Putih, Pantai Karang Agung, Bukit Wanalela, Goa Upas, dan Goa Payung.
Dengan sejarah panjang dan kekayaan alamnya, Desa Argopeni tidak hanya menjadi saksi sejarah perjuangan masyarakatnya, tetapi juga destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam selatan Kebumen.
Sumber: argopeni.kec-ayah.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















