KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Nogoraji yang terletak di Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, memiliki perjalanan sejarah panjang yang bermula dari kawasan hutan belantara hingga berkembang menjadi permukiman yang sarat nilai historis dan budaya.
Berdasarkan catatan sejarah dan legenda yang berkembang di masyarakat, awal mula Desa Nogoraji tidak terlepas dari peran tiga tokoh yang membuka wilayah tersebut bersama para pengikutnya.
Tokoh pertama, H. Abdul Rahman, membuka wilayah bagian utara. Dalam kisah yang berkembang, ia pernah mengejar seekor kijang hingga masuk ke dalam sebuah gua. Namun, setelah memasuki gua tersebut, ia tidak pernah kembali dan dinyatakan menghilang. Peristiwa ini kemudian melahirkan penamaan Gua Kidang, yang kini menjadi salah satu dukuh di Desa Nogoraji.
Selanjutnya, Mbah Jadin membuka wilayah bagian tengah yang kemudian dikenal sebagai Dukuh Jadin. Sementara itu, Mbah Jaya Mustari membuka wilayah selatan yang dikenal subur dan memiliki sumber mata air melimpah.
Seiring perkembangan wilayah, kawasan tersebut menarik perhatian utusan dari Kerajaan Mataram yang tengah melakukan peninjauan. Karena terkesan dengan potensi alamnya, wilayah ini kemudian diberi nama “Nagaraji”, yang berasal dari kata “Nagara” (negara) dan “Aji” (unggul). Dalam perkembangannya, penyebutan tersebut berubah menjadi Nogoraji seperti yang dikenal saat ini.
Secara administratif, sejarah Desa Nogoraji dimulai pada tahun 1884 dengan terpilihnya Arsa Menawi sebagai kepala desa pertama melalui sistem pemilihan tradisional “dodokan”. Sistem ini kembali digunakan pada tahun 1899 dengan terpilihnya Jaya Wigena, serta pada tahun 1930 yang dimenangkan oleh Wangsawireja.
Memasuki masa penjajahan, masyarakat Nogoraji turut merasakan dampak kolonialisme Belanda hingga tahun 1943. Kondisi semakin sulit saat masa pendudukan Jepang pada 1943–1945 yang menyebabkan ketidakstabilan politik, keamanan, serta krisis pangan.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sistem pemerintahan desa kembali berjalan. Pada tahun 1945, pemilihan kepala desa dengan sistem “bitingan” menetapkan Madarso sebagai kepala desa. Namun demikian, dinamika sosial dan politik masih terus terjadi, termasuk dampak dari Agresi Militer Belanda I dan II.
Pada tahun 1951, masyarakat juga menghadapi gangguan keamanan akibat pemberontakan DI/TII serta dampak bencana alam berupa hujan abu dari letusan Gunung Merapi yang terjadi selama satu hari.
Perkembangan sistem pemerintahan desa terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya menggunakan sistem “bitingan”, sejak tahun 1973 pemilihan kepala desa beralih menggunakan sistem “coblosan” yang lebih modern. Sejumlah tokoh yang pernah memimpin desa di antaranya Sandiwirya, S. Mujono Joyo Abdi Kusumo, Sariman Hadi Sumarto, hingga Jamaludin.
Memasuki era modern, Desa Nogoraji juga sempat menjadi perhatian investor. Pada tahun 1992, wilayah ini masuk dalam rencana pengembangan kawasan industri Pabrik Semen Gombong. Dampaknya mulai dirasakan pada tahun 1995, termasuk adanya penggusuran lahan serta kejadian banjir di beberapa wilayah permukiman.
Dalam aspek sosial-politik, peristiwa nasional seperti Gerakan 30 September turut memberikan dampak bagi masyarakat desa, di mana sejumlah warga yang terlibat organisasi terlarang diamankan oleh aparat.
Pemilihan kepala desa terus berlangsung secara demokratis hingga era 2000-an. Pada tahun 2004, Sudarmin terpilih sebagai kepala desa melalui pemilihan dengan calon tunggal melawan kotak kosong. Selanjutnya, Sakirin menjabat pada periode 2009–2015 dan kembali terpilih untuk periode 2017 hingga saat ini.
Selain sejarah administratif, Desa Nogoraji juga mencatat prestasi di bidang olahraga dengan meraih Juara I Kompetisi Sepak Bola tingkat Kawedanan Gombong pada tahun 1988 dalam ajang “Jarum Super Cup”.
Dengan sejarah panjang yang dimiliki, Desa Nogoraji tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang kaya potensi alam, tetapi juga menyimpan nilai-nilai historis, budaya, serta kearifan lokal yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sumber: Website Resmi Desa Nogoraji
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















