KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah dan legenda yang kaya, tak terpisahkan dari keberadaan Goa Jatijajar. Menurut cerita turun-temurun, Goa Jatijajar ditemukan sekitar tahun 1802 oleh seorang petani bernama Ki Jayamenawi. Nama goa ini berasal dari keberadaan dua pohon jati yang tumbuh sejajar di mulut goa, sehingga dinamakan “Goa Jatijajar”.
Sebelum menjadi satu desa, wilayah ini terdiri dari empat desa yang digabung pada tahun 1930, yaitu Desa Blangkunang, Palamarta, Nusatutub, dan Nusawaru. Penggabungan ini dipimpin oleh beberapa lurah dari masing-masing desa. Setelah penggabungan, Desa Jatijajar dipimpin oleh Lurah Kerto Sentono (Daka) dari tahun 1930 hingga 1945, pada masa penjajahan Belanda.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Desa Jatijajar mengadakan pemilihan lurah pertama secara demokratis melalui sistem Bitinga, dan terpilihlah Kerta Pawira yang memimpin selama 21 tahun (1945–1966). Sejak itu, berbagai pergantian kepemimpinan terjadi, termasuk penunjukan pejabat sementara dan pemilihan lurah secara demokratis hingga era modern.
Beberapa nama kepala desa yang tercatat dalam sejarah antara lain:
- Sunariyanto (1980–1989)
- Suwarno (1989–1998)
- Musman (1998–2007)
- Ngato (2007–2013)
- Zulmiyatno (2013–sekarang, periode kedua hingga 2025)
Seiring perjalanan waktu, Desa Jatijajar berkembang dari legenda dan sejarahnya, menuju desa yang lebih modern namun tetap menjaga jejak sejarahnya sebagai bagian dari identitas masyarakat.
Sumber informasi sejarah Desa Jatijajar bersumber dari saksi sejarah, arsip desa, dan dokumentasi resmi Pemerintah Desa Jatijajar.
Sumber: jatijajar.kec-ayah.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















