SEJARAH

Jejak Sejarah dan Legenda Desa Banjararjo, Kecamatan Ayah, Kebumen

101
×

Jejak Sejarah dan Legenda Desa Banjararjo, Kecamatan Ayah, Kebumen

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Banjararjo, yang terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang dan legenda yang kaya akan nilai budaya.

Menurut catatan sejarah, pada abad XVI (sekitar tahun 1500 M), Ratu Shima dari Kerajaan Galuh aktif menyebarkan ajaran Islam, ilmu pemerintahan, dan ilmu pertanian. Salah satu pengikutnya, Harjo Pawiro, mengembara hingga tiba di wilayah yang subur dan mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian.

Harjo Pawiro menetap di daerah tersebut dan mengajarkan ilmunya kepada penduduk setempat. Beliau menamai wilayah itu “Barjarharjo”, yang berarti sawah subur dan kehidupan mulya bagi penduduk. Seiring waktu, nama itu berubah menjadi Desa Banjararjo pada masa pemerintahan Mbah Saridi. Menurut babad aksara Jawa, Banjararjo memiliki makna filosofis: “Lahir itu untuk hidup mencari ilmu, sebagai bekal keselamatan dunia dan akhirat.”

Warisan ilmu Harjo Pawiro diteruskan secara turun-temurun melalui silsilah Nasab Bil Ngilmi, dari Mbah Kerta Sasmita hingga Kyai Sodikin saat ini. Peninggalan beliau berupa Pasarean (makam), batu pesolhatan, papan kayu dengan Candra Sengkala, Al-Qur’an besar, dan berbagai benda pusaka lainnya.

Sejarah Pembangunan Desa

Desa Banjararjo telah dipimpin oleh sembilan kepala desa sejak zaman penjajahan Belanda hingga masa kini. Beberapa pembangunan penting antara lain:

  • Zaman Kepala Desa Atma Sentana (1952–1982): Pembangunan Sekolah Dasar, kantor desa, jalan, dan jembatan.
  • Zaman Kepala Desa Saridi (1982–1990): Gedung SD Negeri II, pengerasan jalan, dan rehab kantor desa.
  • Zaman Kepala Desa Saiman Musafi (2001–2013): Dua periode pembangunan meliputi pengecoran jalan, rehab balai desa, pembangunan PKK, TK, fasilitas air bersih, talud jalan, dan betonisasi beberapa RT.
  • Zaman Kepala Desa Riyanto (2013–2019): Pembangunan air bersih, rabat beton, bronjongisasi, pasar desa, gedung PAUD, embung desa, jembatan, talud, MCK, gapura desa, serta pemeliharaan sumur air bersih dan fasilitas PAMSIMAS.

Kondisi Umum Desa Banjararjo

Secara geografis, Desa Banjararjo memiliki luas 262 hektare dengan topografi 40 meter di atas permukaan laut. Desa ini berbatasan dengan Desa Jladri, Karangbolong, Jintung, Argosari, dan Pasir. Sekitar 95% lahan adalah tanah kering dan 5% sawah.

Jumlah penduduk pada 2019 mencapai 2.635 jiwa dengan komposisi 1.311 laki-laki dan 1.324 perempuan. Mata pencaharian mayoritas penduduk adalah pertanian, diikuti perikanan, perdagangan, dan jasa.

Adat Istiadat yang Masih Dilestarikan

Desa Banjararjo memiliki dua adat yang masih dijalankan hingga kini:

  1. Suran – Kenduri menyambut Tahun Baru Hijriyah setiap 10 Muharam. Di Kadus 3, hewan yang disembelih adalah kambing kendit sebagai sarana keselamatan penduduk, tradisi yang diwariskan dari Mbah Soka Wriya.
  2. Sya’banan (Metri Bumi) – Ritual kenduri setiap 15 Sya’ban, kadang disertai pagelaran wayang kulit. Masyarakat percaya jika ditinggalkan, dapat mendatangkan musibah.

Desa Banjararjo tetap mempertahankan nilai-nilai sejarah dan tradisi, menjadi bagian penting dari identitas budaya dan perkembangan wilayah.

Sumber: banjararjo.kec-ayah.kebumenkab.go.id


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.