SEJARAH

Di Balik Nama Desa Karangbolong Buayan: Kisah Gaib, Sumpah Patih, dan Jejak Nyi Roro Kidul

×

Di Balik Nama Desa Karangbolong Buayan: Kisah Gaib, Sumpah Patih, dan Jejak Nyi Roro Kidul

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangbolong yang berada di wilayah Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat dengan nilai legenda dan kearifan lokal. Dahulu, desa ini dikenal dengan nama Karangtengah, yang berarti wilayah yang dikelilingi perbukitan.

Perubahan nama Karangtengah menjadi Karangbolong tidak lepas dari kisah yang berkembang di masyarakat, yang berkaitan dengan Kerajaan Kartasura pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono II atau Sunan Pakubuwono II.

Dikisahkan, permaisuri raja yang bernama Raden Ayu Inten mengalami sakit keras. Berbagai tabib telah dipanggil, namun tak satu pun mampu menyembuhkannya. Dalam keputusasaan, sang raja melakukan semedi untuk memohon petunjuk. Dalam semedinya, ia mendapatkan wangsit bahwa kesembuhan sang permaisuri hanya dapat diperoleh dengan mencari “jamur yang tumbuh di batu,” yang diyakini sebagai sarang burung walet.

Menindaklanjuti petunjuk tersebut, raja memerintahkan patihnya, yakni Patih Danurejo, untuk melakukan pencarian. Sang patih kemudian menyamar sebagai rakyat biasa dengan nama Kyai Surti dan memulai perjalanan menyusuri pantai selatan Pulau Jawa.

Dalam perjalanan tersebut, Kyai Surti tiba di wilayah Walureja dan bertemu dengan Demang Wirokerti. Keduanya kemudian bersama-sama melanjutkan pencarian ke arah barat hingga menemukan sejumlah lokasi penting, seperti Karangmangu dan wilayah yang kini dikenal sebagai Karangbolong.

Dalam kisah tersebut juga diceritakan adanya peristiwa mistis ketika Demang Wirokerti mengalami kesurupan yang diyakini sebagai pengaruh dari pengikut Nyi Roro Kidul. Dalam kondisi tersebut, ia memberikan petunjuk penting terkait lokasi pencarian dan masa depan wilayah Karangtengah.

Setelah melalui berbagai peristiwa, Kyai Surti berhasil menemukan lokasi sarang burung walet di gua batu yang memiliki lubang tembus. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai “Batu Pengintipan,” karena digunakan untuk mengamati keberadaan burung walet.

Namun, perjalanan tidak berjalan mulus. Terjadi konflik antara Kyai Surti dengan tokoh setempat yang dikenal sebagai Kyai Bekel. Konflik tersebut diwarnai dengan unsur kesaktian dan pertarungan simbolis. Setelah peristiwa itu, Kyai Surti mengungkapkan jati dirinya sebagai Patih Danurejo dan menyampaikan sumpah yang kemudian dipercaya masyarakat sebagai bagian dari sejarah desa.

Salah satu isi sumpah tersebut adalah perubahan nama Desa Karangtengah menjadi Karangbolong, yang merujuk pada kondisi gua batu berlubang di wilayah tersebut. Selain itu, terdapat pula kepercayaan terkait pantangan dan masa depan desa, termasuk harapan kebangkitan melalui potensi wisata alam Goa Sarang Burung Walet.

Kisah ini menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Karangbolong. Meski mengandung unsur legenda, cerita ini tetap menjadi identitas budaya dan sejarah lokal yang memperkaya khazanah Kabupaten Kebumen.

Sumber: Pemerintah Desa Karangbolong

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.