SEJARAH

Sejarah dan Budaya Desa Rangkah Buayan: Jejak Mataram hingga Kisah Mistis Masjid Tiban

189
×

Sejarah dan Budaya Desa Rangkah Buayan: Jejak Mataram hingga Kisah Mistis Masjid Tiban

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Rangkah yang terletak di Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan kerajaan di Jawa serta kekayaan adat budaya yang masih terjaga hingga kini.

Secara geografis, Desa Rangkah berada di wilayah barat daya Kebumen dengan luas sekitar 225,56 hektare. Wilayah ini terdiri dari dataran rendah dan sebagian perbukitan, dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani, buruh tani, pedagang, serta pekerjaan lainnya. Desa ini berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat Kecamatan Buayan dan sekitar 30 kilometer dari ibu kota Kabupaten Kebumen.

Asal-usul Nama dan Sejarah Awal

Nama “Rangkah” berasal dari bahasa Jawa yang berarti wilayah atau daerah yang berada dalam kekuasaan tertentu. Secara historis, wilayah ini pernah menjadi bagian dari kekuasaan Kesultanan Demak, kemudian berlanjut ke Kerajaan Pajang dan Kesultanan Mataram.

Setelah terjadinya Perjanjian Giyanti, wilayah Mataram terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Desa Rangkah kemudian masuk dalam wilayah administrasi Kesultanan Yogyakarta hingga masa kolonial Belanda.

Sejarah juga mencatat adanya pengaruh dari perjuangan Pangeran Diponegoro, di mana sejumlah pengikutnya menyebar ke wilayah barat Jawa, termasuk Kebumen. Sebagian di antaranya menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat, sekaligus menyebarkan ajaran Islam.

Struktur Wilayah dan Kepemimpinan

Pada masa lalu, Desa Rangkah terdiri dari enam dusun, yaitu Dusun Rancah, Serang, Karang, Kaum, Juru Tengah, dan Pengada. Seiring waktu, terjadi perubahan wilayah sehingga kini tersisa lima dusun.

Dalam sejarah pemerintahan desa, sistem pemilihan kepala desa juga mengalami perkembangan, mulai dari metode tradisional seperti “dodokan” dan “bitingan”, hingga sistem pemilihan langsung (coblosan) yang digunakan hingga saat ini.

Adat dan Budaya yang Masih Lestari

Masyarakat Desa Rangkah masih menjaga tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Beberapa tradisi yang rutin dilaksanakan antara lain:

  • Sadranan atau Sedekah Bumi (Merdidesa), yang digelar setiap tahun setelah panen sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.
  • Selametan Suran, dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah dengan doa bersama.
  • Selapanan (Selapan Dina), tradisi kenduri rutin setiap Jumat Kliwon yang dipimpin kepala desa.

Dalam pelaksanaannya, tradisi ini juga diwarnai dengan kesenian lokal seperti tayuban, gamelan, serta penggunaan busana adat Jawa lengkap, mencerminkan kuatnya nilai budaya dan kebersamaan masyarakat.

Situs Sejarah Desa

Desa Rangkah juga memiliki sejumlah situs sejarah yang diyakini memiliki nilai spiritual dan historis, di antaranya:

  • Masjid Tiban, yang dipercaya berdiri secara misterius
  • Petilasan Kyai Mojo
  • Makam Buyut Rancah sebagai tokoh pembuka wilayah
  • Situs Kedung Gong yang dikenal dengan fenomena suara menyerupai gong
  • Petilasan Gunung Braja sebagai lokasi pertapaan

Situs-situs tersebut menjadi bagian penting dalam narasi sejarah lokal yang diwariskan melalui tradisi tutur masyarakat.

Warisan Sejarah dan Identitas Lokal

Sejarah Desa Rangkah sebagian besar diperoleh dari cerita turun-temurun para tokoh masyarakat. Meski belum seluruhnya terdokumentasi secara tertulis, kisah-kisah tersebut tetap menjadi identitas kuat yang membentuk karakter sosial dan budaya warga hingga saat ini.

Keberadaan tradisi, situs sejarah, serta jejak perjalanan panjang dari masa kerajaan hingga era modern menjadikan Desa Rangkah sebagai salah satu desa di Kebumen yang kaya akan nilai sejarah dan budaya lokal.

Sumber:Website Resmi Desa Rangkah


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com