KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kamulyan, yang berada di wilayah Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat dengan nilai budaya, spiritual, dan perjuangan masyarakatnya dari masa ke masa.
Berdasarkan catatan sejarah desa, pada masa lampau wilayah Kamulyan dikenal sebagai daerah yang masih sangat kuno. Masyarakatnya memiliki karakter keras dan cenderung sulit menerima perubahan yang tidak sesuai dengan adat dan kebiasaan setempat. Bahkan, banyak tokoh sepuh dan orang linuwih yang tidak mampu mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik.
Perubahan mulai terjadi ketika datang seorang pengembara sakti bernama Suropati, yang lebih dikenal sebagai Mbah Jenggot. Ia datang saat masyarakat tengah dilanda pageblug berupa penyakit kulit (gudig). Mbah Jenggot kemudian menetap di Dukuh Kalikebi dan membuat sebuah sumur yang digunakan untuk memandikan warga yang sakit.
Upaya tersebut membuahkan hasil, banyak warga yang sembuh dari penyakitnya. Namun, perubahan perilaku yang diharapkan tidak terjadi. Warga yang telah sembuh justru kembali pada kebiasaan lama yang kurang baik. Melihat kondisi tersebut, Mbah Jenggot akhirnya menutup sumur tersebut agar tidak disalahgunakan.
Sebelum meninggalkan wilayah tersebut, ia mengucapkan doa dan harapan, “Semoga kalian semua penduduk Dukuh Kalikebi dan Dukuh Kebayeman menjadi orang-orang yang mendapatkan kemuliaan (Kamulyan).” Nama “Kamulyan” sendiri kemudian diyakini berasal dari doa tersebut.
Secara administratif, Desa Kamulyan resmi terbentuk pada tahun 1923 sebagai hasil penggabungan Dukuh Kalikebi dan Dukuh Kebayeman. Pada masa awal pembentukannya, masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kekurangan pangan, sandang, serta merebaknya berbagai penyakit.
Seiring berjalannya waktu, berbagai peristiwa penting turut mewarnai perjalanan desa ini. Pada tahun 1947, salah satu putra daerah, Bapak Marikin, gugur sebagai pejuang kemerdekaan. Memasuki era pembangunan, berbagai fasilitas mulai dibangun, seperti gedung sekolah dasar pada tahun 1950–1965 dan balai desa secara swadaya pada tahun 1978.
Desa Kamulyan juga pernah mengalami berbagai peristiwa sulit, seperti paceklik pada tahun 1973 serta dampak letusan Gunung Galunggung pada periode 1980–1985. Namun demikian, pembangunan terus berjalan, termasuk bantuan ternak, pembangunan bendung karet yang mulai dirintis pada 1998 dan dioperasikan pada tahun 2000, serta berbagai program bantuan sosial.
Pada era 2000-an, pembangunan infrastruktur desa semakin berkembang pesat. Mulai dari pembangunan sarana pendidikan, tempat ibadah, jalan desa, irigasi, hingga fasilitas kesehatan seperti Polindes. Program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), pembangunan sanitasi, serta pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga turut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Pada tahun 2001, desa mengalami banjir akibat tanggul jebol. Bahkan pada tahun 2019, bencana banjir dan kekeringan kembali terjadi yang berdampak pada menurunnya hasil panen padi masyarakat.
Kini, Desa Kamulyan terus berbenah dan berkembang dengan semangat gotong royong dan kemandirian masyarakat, melanjutkan nilai-nilai luhur yang diwariskan sejak masa Mbah Jenggot hingga generasi sekarang.
Sumber: Website Resmi Desa Kamulyan
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















