SEJARAH

Sejarah Desa Kalipurwo Kuwarasan: Jejak Penggabungan Dua Desa di Era Kolonial Belanda

276
×

Sejarah Desa Kalipurwo Kuwarasan: Jejak Penggabungan Dua Desa di Era Kolonial Belanda

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kalipurwo, yang berada di Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berakar dari masa pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahun 1920-an. Nama “Kalipurwo” sendiri merupakan hasil penggabungan dua desa yang sebelumnya berdiri terpisah, yakni Desa Kalideres dan Desa Purwogondo.

Secara geografis, Desa Kalipurwo terletak sekitar 1,8 kilometer di sebelah selatan pusat Kecamatan Kuwarasan. Desa ini memiliki luas wilayah kurang lebih 192 hektare dan dikenal sebagai wilayah dengan potensi pertanian, perdagangan, serta industri rumah tangga.

Berdasarkan catatan sejarah desa, pada tahun 1924 pemerintah kolonial Belanda melalui pejabat setempat seperti wedono atau asisten bupati memutuskan untuk menggabungkan dua desa yang berdekatan, yakni Kalideres yang dipimpin oleh Lurah Karta Pawira dan Purwogondo yang dipimpin oleh Lurah Ngimran Sastro Wijoyo. Penggabungan ini dilakukan karena kedua wilayah dinilai memiliki luas yang relatif kecil.

Nama Kalipurwo diambil dari dua kata, yakni “Kali” yang berasal dari Kalideres, serta “Purwo” yang diambil dari Purwogondo. Setelah penggabungan tersebut, kedua kepala desa sebelumnya diberhentikan, kemudian dilakukan pemilihan kepala desa baru menggunakan sistem tradisional “dodokan”, di mana warga memilih dengan cara berjongkok di depan calon yang didukung.

Dari proses tersebut, terpilihlah Timbul sebagai kepala desa pertama Kalipurwo yang menjabat pada periode 1920–1925. Hingga kini, wilayah Purwogondo disebut masih lebih dikenal oleh masyarakat dibandingkan nama administratif Kalipurwo.

Seiring perjalanan waktu, Desa Kalipurwo mengalami berbagai dinamika, baik peristiwa penting maupun bencana. Di antaranya adalah pemilihan kepala desa pertama pada tahun 1929, serta sejumlah bencana seperti banjir Sempor pada tahun 1967, angin ribut pada 1978, hingga banjir bandang pada tahun 2002 yang menyebabkan sebagian warga mengungsi.

Dalam aspek pemerintahan, Desa Kalipurwo telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa sejak berdirinya, mulai dari Timbul, Somad Kartawijaya, hingga kepala desa terbaru Yuli Stianto yang menjabat periode 2019–2025.

Dari sisi sosial ekonomi, jumlah penduduk Desa Kalipurwo pada tahun 2019 tercatat sebanyak 3.129 jiwa dengan mata pencaharian utama sebagai petani dan buruh tani. Selain itu, tingkat pendidikan masyarakat terus mengalami perkembangan meskipun masih perlu peningkatan, terutama dalam penyelesaian wajib belajar sembilan tahun.

Dalam pembangunan desa, pemerintah setempat terus berupaya meningkatkan infrastruktur, khususnya di sektor pertanian seperti pengembangan sistem irigasi. Hal ini terbukti mampu mengurangi ketergantungan pada sistem tadah hujan hingga 64 persen.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti kondisi jalan yang sulit dilalui saat musim hujan, keterbatasan akses pertanian, serta kebutuhan peningkatan sarana prasarana desa dan permukiman warga.

Dengan sejarah panjang dan dinamika pembangunan yang terus berjalan, Desa Kalipurwo diharapkan mampu berkembang menjadi desa yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera di masa mendatang.

Sumber: Website Resmi Desa Kalipurwo


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.