KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tanahsari yang berada di Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang yang berpadu antara kisah perjuangan, dakwah Islam, serta tradisi budaya yang masih hidup hingga kini.
Secara geografis, Desa Tanahsari terletak pada koordinat 7.6717937 Lintang Selatan dan 109.706256 Bujur Timur, dengan ketinggian sekitar 29 meter di atas permukaan laut. Meski tidak ada catatan tertulis yang secara pasti menjelaskan awal berdirinya desa ini, sejumlah cerita dan penuturan para sesepuh desa menjadi rujukan penting untuk menelusuri asal-usul Tanahsari.
Jejak Perlawanan terhadap Belanda
Nama Tanahsari diketahui sudah ada setidaknya sejak tahun 1949. Hal ini berkaitan dengan peristiwa sejarah perlawanan rakyat terhadap tentara Belanda pada masa agresi militer.
Pada 10 Januari 1949, pasukan Belanda yang berkekuatan satu kompi lengkap terlibat pertempuran dengan Angkatan Oemat Islam (AOI) di kawasan Gunung Pager Kodok. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Belanda mengalami kekalahan dan mundur ke arah utara hingga memasuki wilayah Desa Tanahsari.
Kekalahan tersebut membuat tentara Belanda melakukan aksi balasan dengan menggerebek dan membakar wilayah Desa Tanahsari pada hari berikutnya. Peristiwa inilah yang menjadi salah satu catatan sejarah penting bagi masyarakat desa, sekaligus menegaskan bahwa Tanahsari sudah dikenal sebagai sebuah wilayah pemukiman pada masa itu.
Syekh Abdul Jalal dan Awal Penyebaran Islam
Selain dikenal dalam sejarah perjuangan, Desa Tanahsari juga memiliki kisah penting dalam perjalanan dakwah Islam di wilayah Kebumen. Di desa ini terdapat makam seorang ulama yang sangat dihormati masyarakat, yakni Syekh Abdul Jalal.
Menurut cerita para sesepuh, Syekh Abdul Jalal berasal dari Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau dikenal sebagai ulama besar pada zamannya yang aktif menyebarkan ajaran Islam di wilayah selatan Pulau Jawa, khususnya Kebumen.
Dalam sejumlah kisah yang berkembang di masyarakat, Syekh Abdul Jalal disebut sebagai tokoh kepercayaan dari Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak. Ia dipercaya mendapat tugas untuk menyebarkan Islam di wilayah selatan Pulau Jawa.
Selama menjalankan dakwahnya, Syekh Abdul Jalal juga sering bermusyawarah dan bermujahadah bersama para sahabatnya untuk membahas masa depan masyarakat Kebumen. Hingga kini, makam beliau menjadi tempat ziarah masyarakat yang ingin mengenang jasa serta keteladanan dakwahnya.
Caption Foto 1: Kompleks makam Syekh Abdul Jalal di Desa Tanahsari, Kebumen, yang hingga kini menjadi tempat ziarah masyarakat sebagai penghormatan kepada ulama penyebar Islam di wilayah selatan Jawa.
Perjalanan Pemerintahan Desa
Pada masa awal pemerintahan, wilayah Desa Tanahsari pernah terbagi menjadi dua kawasan administratif.
Wilayah pertama adalah Bojong atau Kedungrandu yang meliputi daerah Bojong/Kedungrandu, Jombor, Rawabang hingga Rujakbeling. Sementara wilayah kedua adalah Pengabean yang mencakup Pengabean, Karangsambung, dan Pejulungan.
Kedua wilayah tersebut memiliki kepemimpinan desa masing-masing hingga akhirnya disatukan menjadi satu wilayah Desa Tanahsari pada masa pemerintahan Kepala Desa Rana Sentika, meskipun tahun pasti penyatuannya tidak diketahui.
Setelah itu, Tanahsari berkembang menjadi satu wilayah desa yang terdiri dari 5 RW dan 15 RT.
Dalam perjalanan kepemimpinan desa, sejumlah tokoh pernah memimpin Tanahsari, di antaranya Sastromiharjo, Marta Sabar, Sofyan Aziz (sejak 1966), Suripto (1987), Masngudin (2003–2007), Saefudin Aziz (2007–2011), Muhammad Subur (2011–2015), serta Penjabat Kepala Desa Muhtar dan Warisno (2015–2017). Kemudian pada periode 2018–2023, desa ini dipimpin oleh Khojin.
Tradisi Adat yang Masih Terjaga
Selain sejarahnya yang panjang, Desa Tanahsari juga dikenal dengan kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi dan kearifan lokal.
Sebagian besar penduduk desa menggantungkan hidup dari sektor pertanian, khususnya pertanian sawah. Di samping itu, terdapat pula usaha industri rumah tangga yang cukup berkembang seperti pembuatan jas hujan, tas, dan topi.
Dalam bidang budaya dan tradisi, masyarakat Tanahsari masih melestarikan sejumlah kegiatan adat, salah satunya ziarah dan resik kubur di makam Syekh Abdul Jalal yang dilaksanakan setiap tanggal 16 Ruwah dalam penanggalan Jawa.
Tradisi lain yang masih dijaga adalah Sedekah Bumi atau Merdi Bumi yang dilaksanakan sebagai wujud syukur setelah masa tanam padi. Dalam kegiatan ini, warga menggelar tahlil bersama di masing-masing RT dan dilanjutkan dengan makan bersama.
Setiap warga membawa tumpeng yang kemudian dikumpulkan dalam satu wadah besar sebelum dibagikan kembali kepada seluruh masyarakat, baik yang hadir maupun yang berhalangan datang.
Di samping itu, masyarakat juga masih mempertahankan tradisi Mapati bagi ibu hamil yang memasuki usia kandungan empat bulan, serta Mitoni saat usia kandungan tujuh bulan.
Dalam tradisi kematian, masyarakat Tanahsari juga masih menjalankan ritual doa bersama pada hari ke-7, ke-40, ke-100, setahun (nyewu), hingga peringatan 1000 hari serta haul tahunan.
Berbagai tradisi tersebut menjadi bukti bahwa Tanahsari tidak hanya menyimpan sejarah panjang, tetapi juga memiliki kekuatan budaya dan nilai kebersamaan yang tetap terjaga hingga saat ini.
Sumber: Disarikan dari berbagai sumber, salah satunya website resmi Desa Tanahsari.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















