KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap nama desa selalu memiliki cerita tersendiri. Desa Pesalakan di Kecamatan Kutowinangun, Kebumen, menyimpan sejarah unik yang terkait dengan perjuangan penyebaran agama Islam dan misi spiritual para tokoh lokal.
Konon, pada masa dahulu, seorang tokoh bernama Niti Jatikusumo, yang merupakan anak buah Pangeran Diponegoro, mengembara dengan misi dakwah Islam. Dalam perjalanannya, beliau singgah di sebuah kampung kecil yang terletak di dekat bukit. Di sana, beliau mendirikan sebuah tempat ibadah yang dikenal oleh warga sebagai Pesholatan, yang berarti tempat untuk sholat.
Namun seiring waktu, Niti Jatikusumo merasa prihatin karena warga sekitar jarang menunaikan sholat. Suatu peristiwa membuatnya semakin kecewa, ketika keris pusaka beliau hilang dicuri saat sedang sholat. Kejadian itu membuat beliau mengganti nama kampung dari Pesholatan menjadi Pesalahan, sebagai cerminan ketidaksesuaian dengan perilaku masyarakat saat itu.
Seiring berjalannya waktu, warga kampung mulai rajin melaksanakan ibadah sholat. Menjelang wafatnya, Niti Jatikusumo berpesan agar nama desa diubah menjadi Pesalakan. Nama ini dipilih karena lebih enak didengar dan menghilangkan konotasi negatif dari nama sebelumnya, bukan karena daerah tersebut merupakan penghasil buah salak.
Sejak saat itu, Desa Pesalakan dikenal luas, dan kisah bijaksana Mbah Niti Jatikusumo tetap hidup sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah lokal.
Sumber: Pesalakan.kec-kutowinangun.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















