KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Munggu, yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Petanahan, menyimpan sejarah panjang yang sarat makna. Dahulu kala, wilayah kademangan yang masih jarang penduduknya ini memiliki empat padepokan, yakni:
- Padepokan Kedenokan – dipimpin Demang Prukul dengan istri Nyi Denok.
- Padepokan Kemlathen – dipimpin Demang Kethinthang (makamnya masih ada di RT 01 RW 03).
- Padepokan Trebis – dipimpin Demang Truna.
- Padepokan Kewidodaren atau Pedaren – dipimpin Demang Joko Tarub.
Seiring waktu, pada masa penjajahan Belanda, datang dua prajurit Mataram bernama Ki Agrayuda dan Ki Wirayuda dengan tujuan membangun wilayah kademangan. Atas kesepakatan dengan para pemimpin padepokan dan warga, wilayah ini terbagi menjadi dua: wilayah timur dipimpin Ki Agrayuda dan wilayah barat dipimpin Ki Wirayuda. Wilayah barat berkembang pesat di bidang pertanian, sedangkan wilayah timur lebih menonjol dalam adat dan budaya karena sebagian besar warganya adalah priyayi.
Namun, Belanda menggunakan politik adu domba untuk menguasai wilayah ini. Mereka menjanjikan jabatan lurah bagi siapa yang bisa melunasi upeti lebih dahulu. Persaingan ini memicu perang tanding antara Ki Agrayuda dan Ki Wirayuda, yang berakhir tanpa korban jiwa karena keduanya memiliki kesaktian yang seimbang. Dari sini muncul legenda sumpah “turun pitu tedak wolu” yang melarang keturunan kedua wilayah untuk saling berbesanan hingga kini.
Akhirnya, Ki Wirayuda menjadi Lurah wilayah barat, sementara Ki Agrayuda diangkat sebagai Lurah wilayah timur melalui perantara prajurit Mataram. Legenda juga mencatat perjalanan Pangeran Diponegoro yang berhenti di daerah ini. Kebingungan para prajuritnya di wilayah utara dan selatan melahirkan nama Desa Munggu, diambil dari bahasa Jawa mangu-mangu (bingung), serta penanaman pohon asem sebagai tanda perjalanan. Hingga sekarang, sepanjang jalan desa Munggu masih banyak ditumbuhi pohon asem, menjadi saksi sejarah perjalanan Pangeran Diponegoro.
Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1922, wilayah timur dan barat disatukan menjadi Desa Munggu. Ki Wirayuda kembali ke Mataram, sementara Ki Agrayuda menghilang (merca).
Sejarah Desa Munggu tidak hanya menjadi kisah masa lalu, tetapi juga menjadi bagian identitas dan kebanggaan masyarakat setempat hingga kini.
Narasumber:
- Bp. Kartotaruno (mantan perangkat desa)
- Bp. Bardi (tokoh masyarakat)
- Bp. Moh Sarnuji (tokoh agama)
Diunggah oleh: Nurul Arifin
Disusun oleh: Mutingah
Sumber: munggu.kec-petanahan.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















