SEJARAH

Sejarah Desa Grogolbeningsari Petanahan Kebumen: Dari Empat Desa Menjadi Satu Wilayah yang Terus Berkembang

639
×

Sejarah Desa Grogolbeningsari Petanahan Kebumen: Dari Empat Desa Menjadi Satu Wilayah yang Terus Berkembang

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Grogolbeningsari, yang berada di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Terletak di sebelah timur Kecamatan Petanahan, desa ini tidak hanya dikenal dari letaknya yang strategis, tetapi juga dari makna filosofis yang terkandung dalam namanya.

Secara etimologis, Grogolbeningsari berasal dari dua kata, yakni “grogol” yang berarti tanah atau sawah kering, serta “beningsari” yang berarti sumber air yang jernih. Nama ini mencerminkan kondisi alam desa yang memiliki potensi sumber daya air yang bersih di tengah hamparan lahan pertanian.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, wilayah Grogolbeningsari belum menjadi satu kesatuan desa seperti sekarang. Saat itu, wilayah ini terdiri dari empat desa, yaitu Desa Kelurahan yang dipimpin Lurah Srowol, Desa Beningan oleh Lurah Benggol, Desa Kebabal oleh Lurah Singawi Krama, serta Desa Wadas yang dipimpin oleh seorang lurah yang belum tercatat secara pasti.

Seiring berjalannya waktu, pemerintah Hindia Belanda melakukan penataan administratif dengan menyatukan keempat desa tersebut menjadi satu kesatuan yang dikenal dengan istilah “blengketan”. Dari sinilah lahir Desa Grogolbeningsari sebagai satu wilayah administratif yang utuh.

Perjalanan pemerintahan desa pun terus berlanjut dari masa ke masa. Sekitar tahun 1895, kepemimpinan desa dipegang oleh Kepala Desa Zam-Zam, yang menjadi pemimpin awal setelah proses penyatuan wilayah tersebut.

Memasuki masa penjajahan Jepang, kepemimpinan dilanjutkan oleh Sukardi pada periode 1939–1944. Setelah Indonesia merdeka, tongkat estafet kepemimpinan beralih kepada H. Azhari (1945–1950), yang mulai merintis pembangunan infrastruktur desa, meskipun saat itu kondisi keamanan masih belum stabil akibat konflik dengan tentara Sekutu.

Pembangunan desa terus berlanjut pada masa kepemimpinan Dullah Satari (1950–1957), meski sempat terkendala situasi keamanan akibat pemberontakan. Kemudian, pada masa Kusno (1958–1991), pembangunan desa mengalami perkembangan signifikan, termasuk dibukanya wisata religi Makam Syah Anom Sidakarsa yang kini menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.

Selanjutnya, pada masa H. Suandi (1991–1999), pembangunan difokuskan pada fasilitas pemerintahan, termasuk pembangunan kantor desa yang dipindahkan ke lokasi strategis di Jalan Sokka–Petanahan, yang hingga kini masih digunakan.

Pembangunan infrastruktur terus berlanjut pada masa Gunawan (1999–2008) dengan pembangunan aula desa, serta pada masa Wisnu Nugroho (2008–2013) yang menginisiasi program makadam jalan desa sebagai dasar untuk pengaspalan.

Saat ini, Desa Grogolbeningsari dipimpin oleh Kepala Desa perempuan pertama, Siti Rohayah, yang menjabat sejak 2013 hingga sekarang. Di bawah kepemimpinannya, pembangunan desa semakin pesat, terutama sejak adanya program Dana Desa dari pemerintah pusat. Berbagai pembangunan telah direalisasikan, mulai dari pengaspalan jalan, rabat beton jalan usaha tani, pembangunan irigasi tersier, hingga normalisasi drainase.

Perjalanan panjang Desa Grogolbeningsari menjadi bukti nyata bagaimana sebuah wilayah dapat berkembang dari gabungan beberapa desa kecil menjadi desa yang maju dan terus berbenah demi kesejahteraan masyarakatnya.

Sumber: Website resmi Desa Grogolbeningsari https://grogolbeningsari.kec-petanahan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/89


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.