KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Babadsari, yang terletak di Kecamatan Kutowinangun, bukan hanya sekadar wilayah administratif, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang dan adat istiadat yang masih lestari hingga kini. Nama “Babadsari” sendiri memiliki makna filosofis mendalam dalam budaya Jawa. Kata “Babad” berarti membuka lahan, sedangkan “Sari” berarti mengambil manfaatnya. Sehingga Babadsari diartikan sebagai “membuka lahan baru untuk dimanfaatkan secara bermanfaat,” mencerminkan semangat masyarakat desa membangun kehidupan yang makmur dan berkesinambungan.
Jejak Sejarah yang Terpahat
Desa Babadsari terbentuk dari penggabungan tujuh dukuh, yaitu Gumenter, Karangtengah, Krajan 1 & 2, Bawong, Lengkoro 1 & 2. Desa ini sudah berdiri jauh sebelum era kolonial, dibuktikan melalui situs cagar budaya berupa makam tokoh-tokoh penting, antara lain:
- Simbah Pinanggulan, Simbah Menis, Syah Samsudin, dan Simbah Baratyang di Dukuh Bawong.
- Raden Suryo Dipo (Simbah Kinthol Gulu) dan keturunannya dari kesultanan Yogyakarta di Dukuh Lengkoro 1.
- Situs Nyai Kuang di Dukuh Lengkoro 2 yang masih dijadikan lokasi kegiatan keagamaan, terutama saat Bulan Muharam.
Situs-situs ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga tetap menjadi bagian hidup masyarakat Babadsari dalam tradisi keagamaan dan sosial.
Kepemimpinan Desa yang Berubah Seiring Waktu
Sejarah pemerintahan Desa Babadsari juga menarik untuk dicatat. Desa ini telah dipimpin oleh delapan kepala desa dengan berbagai sistem pemilihan: mulai dari penunjukan langsung oleh tokoh masyarakat hingga sistem demokratis menggunakan lidi dan simbol hasil bumi.
Berikut perjalanan kepemimpinan desa:
- Simbah Asta Drana – Kepala Desa pertama dari Dukuh Karangtengah.
- Simbah Kromo Wardoyo – Dipilih melalui penunjukan warga, berdomisili di Krajan 2.
- Simbah Siswo Wardoyo – Terpilih melalui pemilihan lidi, menjabat hingga 1993.
- Amin – Terpilih secara demokratis dengan sistem simbol hasil bumi, menjabat hingga 2001.
- Sukandar – Kepala Desa periode 2001–2007.
- Bambang Haryono – Menjabat 2007–2013.
- Sugiyanto S.H – Menjabat 2013–2019.
- Slamet Widiyanto – Kepala Desa saat ini, terpilih sejak 2019.
Perjalanan kepemimpinan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Babadsari menyesuaikan tradisi dengan perubahan sistem demokrasi di Indonesia, tetap menjaga nilai-nilai lokal sambil mengadopsi mekanisme modern.
Desa Babadsari hari ini tetap mempertahankan adat-istiadatnya sambil beradaptasi dengan kemajuan zaman, menjadikan desa ini contoh harmonisasi antara sejarah, tradisi, dan modernitas.
Sumber: babadsari.kec-kutowinangun.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















