KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa di Indonesia memiliki sejarah dan legenda tersendiri yang menjadi tonggak kenangan bagi masyarakat. Desa Sidomulyo, Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen misalnya, menyimpan kisah panjang dari masa sebelum kemerdekaan hingga era modern, yang diwariskan oleh para tokoh dan sesepuh desa.
Sejarah Desa Sidomulyo bermula dari keberadaan beberapa trah yang menempati wilayah ini, yaitu Trah Pajaya, Trah Wirawangsa, Trah Jaya Aminjaya, Trah Agusman (Mbah Lebu Awu), dan Trah Gagak Bani. Makam para tokoh tersebut masih terawat hingga kini dan dijadikan monumen sejarah bagi warga. Dari Trah Pajaya inilah nama awal desa, Pagutan, diambil, yang kemudian berkembang menjadi Desa Sidomulyo setelah terbentuknya lembaga pemerintahan.
Wilayah desa Sidomulyo awalnya terbagi dalam beberapa zona, antara lain Gedoya, Karang Tengah, dan Karanganyar, sesuai dengan babad tanah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pemerintahan desa modern dimulai sekitar tahun 1879 dengan Lurah Sutadimeja, yang memimpin selama 30 tahun, diikuti Lurah Partadimeja hingga 1919.
Selain tokoh pemerintahan, desa ini juga dikenal memiliki ulama kharismatik bernama Jayamantra dan tokoh budaya Patruna, yang melahirkan kesenian lokal seperti ebeg (kuda lumping), lengger, wayang orang, dan kethoprak. Kedua aliran budaya Jawa dan Islam Nusantara kini melebur dalam kehidupan masyarakat Sidomulyo.
Sistem pemilihan lurah mulai menggunakan metode Dodokan pada tahun 1919, yang melahirkan Lurah Kertanawi. Di masa kepemimpinannya, nama desa Pagutan resmi diganti menjadi Sidomulyo pada 1946, terinspirasi semangat kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan masyarakat dan kepemimpinan desa tidak mudah. Saat kolonial Belanda masih berkuasa, penduduk Sidomulyo mengalami kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan pengelolaan tanah yang tidak berpihak pada rakyat. Lurah Kertanawi bersama perangkatnya melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kehidupan warga, termasuk menukar tanah kas desa agar masyarakat bisa bertani di lahan subur.
Berbagai pembangunan dan kemajuan terjadi di desa ini hingga era modern. Masjid Baitul Ikrom didirikan pada 1910, gedung sekolah dasar, balai desa, lapangan sepak bola, TK Dharma Wanita, hingga munculnya generasi berpendidikan yang mengisi berbagai jabatan strategis di pemerintahan dan TNI.
Sejak masa pemerintahan Lurah Maksum hingga Bambang Agus Susanto, sistem pemerintahan desa mengikuti aturan modern, termasuk pembentukan Badan Perwakilan Desa (BPD) dan peningkatan fasilitas pendidikan serta sosial. Desa Sidomulyo menjadi contoh harmonisasi antara tradisi, budaya, dan pemerintahan modern yang tetap mempertahankan nilai sejarah.
Desa Sidomulyo membuktikan bahwa memahami dan melestarikan sejarah serta legenda desa bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadi landasan bagi generasi penerus untuk membangun desa lebih baik.
Sumber: website resmi Desa Sidomulyo
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















