SEJARAH

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Karangsari Kebumen: Dari Legenda Lima Dusun hingga Bersatu Tahun 1935

671
×

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Karangsari Kebumen: Dari Legenda Lima Dusun hingga Bersatu Tahun 1935

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangsari di Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Kisah berdirinya desa ini tidak dapat dipisahkan dari legenda dan cerita rakyat yang berkembang di lima dusun yang menjadi cikal bakal wilayah tersebut, yakni Dusun Karangasem, Kewangen, Klepubener, Ampel, dan Kesambi.

Cerita-cerita turun-temurun yang diwariskan para sesepuh menggambarkan bagaimana kawasan yang dahulu berupa hutan lebat perlahan dibuka dan menjadi permukiman warga. Dari sanalah kemudian lahir Desa Karangsari yang dikenal masyarakat hingga saat ini.

Legenda Karangasem dan Jejak Prajurit Mataram

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Dusun Karangasem merupakan salah satu wilayah awal yang dibuka. Sosok yang diyakini pertama kali melakukan babat alas adalah Ki Supodriyo, seorang prajurit Kerajaan Mataram yang disebut pernah membantu perjuangan Pangeran Trunojoyo melawan Kompeni Belanda.

Ki Supodriyo memiliki keturunan yang secara turun-temurun melanjutkan pengelolaan wilayah tersebut, mulai dari Ki Jayadipa, Ki Karyadipa, hingga Ki Dipareja.

Di tengah hutan yang dahulu lebat, terdapat sebuah sumber mata air atau beji yang tidak pernah kering meski musim kemarau panjang. Sumber air ini menjadi penopang kehidupan masyarakat sekitar. Kini, lokasi tersebut tinggal berupa petilasan, sementara nama “Beji” diabadikan sebagai nama jalan desa yang menghubungkan Dusun Karangasem dan Dusun Ampel, yang dibangun pada 2018–2019.

Selain itu, nama Karangasem sendiri dipercaya berasal dari sebuah pohon asem besar yang dahulu tumbuh rindang di kawasan tersebut. Pohon yang konon dikenal angker itu berada di sekitar Jalan Cemara, di sebelah utara MI Ma’arif dan Kantor Desa Karangsari saat ini.

Kisah Musafir dari Turki di Dusun Kewangen

Legenda lain datang dari Dusun Kewangen. Menurut cerita para sesepuh, dahulu kawasan ini masih berupa hutan belantara. Suatu ketika, seorang musafir yang disebut berasal dari Turki singgah di tempat tersebut.

Keberadaan musafir itu diyakini melalui adanya petilasan yang dikenal sebagai makam atau cungkup Mbah Turki. Hingga kini, sebagian masyarakat masih datang berziarah ke lokasi tersebut, terutama pada malam Selasa dan Jumat Kliwon.

Dalam ritual ziarah tersebut biasanya digunakan bunga, dupa, serta minyak wangi. Aroma harum yang menyebar di sekitar cungkup itulah yang kemudian melahirkan istilah “kewangen”, yang dalam bahasa Jawa merujuk pada bau harum yang semerbak. Dari situlah nama Dusun Kewangen berasal.

Awal Mula Nama Klepubener

Sementara itu, legenda Dusun Klepubener berawal dari kisah seorang sesepuh Karangasem yang dikenal sebagai Nyi Kebayan. Suatu ketika ia berjalan bersama seorang pemuda gagah bernama Rebawa menyusuri hutan di wilayah paling selatan.

Di tengah perjalanan, Nyi Kebayan melihat sebuah pohon besar dan bertanya kepada Rebawa mengenai nama pohon tersebut. Rebawa kemudian menjawab bahwa pohon itu adalah pohon klepu.

Dari peristiwa tersebut, Rebawa kemudian dipercaya memimpin wilayah tersebut dengan gelar Ki Singa Rebawa. Seiring waktu, kawasan yang dahulu disebut Blok Si Klepu berkembang menjadi dukuh dengan nama Klepubener.

Asal-usul Dusun Ampel

Legenda lain datang dari Dusun Ampel. Konon pada masa lampau terdapat seorang tokoh masyarakat yang memiliki tekad kuat untuk memajukan desa. Ia kemudian melakukan semedi dan mendapatkan sebuah pertanda.

Dalam semedinya, ia melihat kemunculan batang aur kuning atau ampel secara tiba-tiba. Peristiwa tersebut dianggap sebagai isyarat spiritual sehingga wilayah itu kemudian dinamakan Pedukuhan Ampel.

Lokasi semedi tersebut diperkirakan berada sekitar 300 meter ke arah barat dari Soka Wera, yang kini menjadi perbatasan Desa Jemur. Tempat itu sekarang dikenal sebagai Makam Ampel Jembluk.

Legenda Pohon Kesambi

Legenda terakhir berasal dari Dusun Kesambi. Dahulu wilayah ini disebut masih menjadi bagian dari Dusun Kewangen bagian timur.

Menurut cerita rakyat, kawasan tersebut dulunya berupa hutan dengan pohon-pohon besar dan tinggi. Suatu ketika salah satu pohon besar tiba-tiba tumbang ke arah barat.

Penduduk yang penasaran kemudian menelusuri pohon tersebut dari akar hingga ujung batangnya. Di ujung pohon itu mereka bertemu dengan seorang nenek tua yang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon kesambi.

Sang nenek juga berpesan bahwa wilayah tersebut kelak akan menjadi tempat kehidupan masyarakat dan diberi nama Kesambi. Setelah menyampaikan pesan tersebut, sang nenek dipercaya menghilang secara misterius.

Di lokasi itu kemudian dibuat tempat pemakaman umum yang dikenal dengan nama Makam Nyi Catat.

Bersatunya Lima Dusun Menjadi Desa Karangsari

Kelima wilayah tersebut kemudian berkembang dan akhirnya menyatu menjadi satu pemerintahan desa bernama Desa Karangsari.

Penggabungan tersebut terjadi pada Minggu Pon, 10 Muharam 1354 Hijriah, yang bertepatan dengan 14 April 1935.

Tokoh yang dipercaya menjadi kepala desa pertama adalah Wangsa Dimeja. Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan secara berturut-turut oleh Prawiro Wardoyo (Saikho), Solehan Afandi, Selo KS (Pjs), HAS Soewirjo, R. Soeratmo, Masngidah, S.Pd.I, Hj. Ailafdijah, hingga Endrata yang saat ini menjabat sebagai kepala desa untuk periode kedua.

Hingga kini, berbagai legenda tersebut masih hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari identitas sejarah dan budaya Desa Karangsari.

Sumber: Website resmi Desa Karangsari Kecamatan Kebumen.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.