KEBUMEN, Kebumen24.com — Sejarah Desa Lajer, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda yang sarat makna tentang perjuangan, kebijaksanaan, dan semangat kebersamaan masyarakat sejak masa lampau.
Konon, pada zaman dahulu wilayah Desa Lajer masih berupa hutan belantara. Hingga suatu ketika, datang seorang perempuan sakti dan bijaksana bernama Raden Mas Ayu yang berasal dari Solo. Ia dikenal sebagai sosok pengembara yang gemar bertapa dan menuntut ilmu untuk mencapai kesempurnaan batin dan kesaktian.
Dengan tekad kuat, Raden Mas Ayu berinisiatif membuka hutan tersebut untuk dijadikan pemukiman. Berbekal kesaktiannya, ia mengibaskan selendang yang mampu mengeluarkan api besar hingga membakar hutan. Batas padamnya api itulah yang kemudian menjadi cikal bakal wilayah Desa Lajer.
Namun, setelah hutan terbakar, muncul permasalahan baru. Tanah yang masih menyimpan panas menyebabkan tanaman pangan sulit tumbuh dan kerap diserang hama. Melihat kondisi tersebut, Raden Mas Ayu merasa prihatin. Ia pun melakukan semedi untuk memohon petunjuk.
Dari hasil semedinya, ia mendapatkan petunjuk agar masyarakat menggelar selamatan sebelum menanam padi dan palawija. Warga kemudian bermusyawarah dan sepakat melakukan perataan lahan serta gotong royong.
Dalam prosesnya, warga yang memiliki lahan luas menyumbangkan sebagian tanahnya, sementara yang lain berkontribusi melalui kerja bakti. Lahan yang terkumpul mencapai sekitar enam belas bau atau setara 8.000 ubin. Tanah tersebut kemudian dibagi menjadi delapan bagian sesuai jumlah dusun di Desa Lajer.
Hingga kini, lahan tersebut dikenal sebagai “Tanah Gomgoman” atau tanah kelompok. Setiap tahun, pemerintah desa melelang lahan tersebut kepada masyarakat untuk dikelola. Hasil lelang digunakan untuk kegiatan selamatan desa, termasuk pembelian delapan ekor kerbau yang kemudian disembelih dan dibagikan kepada keturunan para pekerja terdahulu sesuai bagian masing-masing.
Sebagai bentuk penghormatan, nama Raden Mas Ayu diabadikan menjadi salah satu dusun, yakni Dusun Masayu, yang juga menjadi lokasi makamnya. Sementara itu, nama Desa Lajer sendiri diambil dari salah satu tokoh pendiri, Simbah Lajer, yang dimakamkan di Dusun Kajoran.
Legenda ini tidak hanya menjadi cerita turun-temurun, tetapi juga mencerminkan nilai gotong royong, spiritualitas, dan kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Desa Lajer hingga saat ini.
Sumber:
Website resmi Desa Lajer — https://lajer.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/111/144
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















