KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pucangan di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah yang unik dan sarat makna filosofi. Sebelum dikenal sebagai satu wilayah administratif seperti sekarang, Desa Pucangan dulunya merupakan gabungan dari tiga desa, yakni Pucung, Pengampon, dan Pucangan.
Penggabungan atau “blengket” ketiga desa tersebut terjadi sekitar tahun 1959. Sejak saat itu, nama Pucangan resmi digunakan sebagai identitas desa yang menaungi wilayah Pucung, Pengampon, dan Krajan sebagai pedukuhan.
Menurut cerita turun-temurun, asal-usul nama Pucangan berkaitan dengan kisah seorang pengembara yang konon berasal dari lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam perjalanannya, sang pengembara singgah di wilayah yang kini menjadi Desa Pucangan.
Ia merasakan kesamaan suasana dengan kampung halamannya, terutama karena banyaknya pohon pucang atau pinang yang tumbuh dengan pola yang serupa. Kesan itulah yang membuat sang pengembara menamai wilayah tersebut sebagai “Pucangan”.
Pengembara tersebut kemudian menetap hingga akhir hayatnya di desa itu. Namun, hingga kini keberadaan makamnya tidak diketahui secara pasti.
Meski demikian, jejak budaya yang diyakini berkaitan dengan sosok tersebut masih terjaga melalui tradisi selamatan desa atau “Memetri Bumi” yang terus dilestarikan masyarakat setempat.
Tradisi ini memiliki sejumlah syarat khusus, seperti menyembelih wedus kendit (kambing hitam dengan garis putih dari perut hingga punggung) dan pitik putih (ayam jago berbulu putih bersih). Di balik syarat tersebut, tersimpan nilai-nilai filosofis yang menjadi pedoman hidup masyarakat.
Wedus kendit dimaknai sebagai simbol pengendalian hawa nafsu. Kambing yang identik dengan sifat nafsu melambangkan dorongan manusia, sementara garis putih menjadi simbol arah kebaikan. Masyarakat diharapkan mampu mengendalikan diri dan mengarahkan nafsu pada hal-hal positif.
Sementara itu, pitik putih memiliki makna kesucian dalam perilaku sehari-hari. Paruh putih (cucuk putih) melambangkan pentingnya menjaga ucapan, bulu putih (wulu putih) mencerminkan kebersihan diri dari perbuatan buruk, dan kaki putih (ceker putih) menjadi simbol mencari rezeki dengan cara yang baik dan sesuai norma agama, adat, serta hukum.
Hingga kini, nilai-nilai tersebut masih diyakini dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Pucangan, sebagai warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Sumber: pucangan.kec-ambal.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















