KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Soka di Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda dan perjalanan sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Nama desa ini tidak hanya menjadi identitas wilayah, tetapi juga menyimpan cerita tentang tempat perlindungan bagi banyak orang pada masa penjajahan.
Menurut keterangan sesepuh Desa Soka, Kyai Mukhsin, pada zaman dahulu wilayah tersebut sering didatangi orang dari berbagai daerah yang mencari perlindungan dari situasi sulit pada masa penjajahan. Salah satu tokoh yang disebut dalam cerita masyarakat adalah seseorang bernama Soka Mrica.
Dari cerita yang berkembang di masyarakat, kata “Soka” diyakini berasal dari ungkapan dalam bahasa Jawa “sok-sok teko” yang berarti “sering datang”. Hal itu merujuk pada kondisi wilayah tersebut yang kerap menjadi tempat persinggahan orang dari luar daerah.
Selain itu, masyarakat tempo dulu juga menyebut wilayah ini dengan istilah “Sokareni.” Dalam filosofi Jawa, istilah tersebut menggambarkan bahwa orang yang tinggal di Desa Soka akan merasakan kehidupan yang penuh perjuangan. Ungkapan yang sering disebut adalah “yen dipanggoni mlarati, yen ditinggal nglangeni.” Artinya, ketika ditempati terasa sulit, tetapi ketika ditinggalkan justru terasa dirindukan.
Meski demikian, secara administratif dalam pemerintahan, wilayah tersebut tetap dikenal secara resmi sebagai Desa Soka hingga sekarang.
Catatan Peristiwa Penting Desa Soka
Perjalanan sejarah Desa Soka juga diwarnai berbagai peristiwa penting, baik yang membawa kemajuan maupun tantangan bagi masyarakat.
Pada tahun 1943, warga desa pernah mengalami masa sulit akibat kelaparan dan wabah penyakit kulit yang dikenal dengan sebutan gudik atau sambangen.
Memasuki 1947–1948, situasi semakin menegangkan ketika masa penjajahan Belanda masih berlangsung. Kemudian pada 1950–1951, wilayah sekitar juga sempat diwarnai oleh pemberontakan AOI yang berkaitan dengan gerakan dari Somalangu.
Peristiwa nasional juga turut memengaruhi kehidupan masyarakat desa. Pada 1964–1965, situasi politik nasional memanas dengan terjadinya pemberontakan Gerakan 30 September.
Di masa pembangunan desa, masyarakat mulai menunjukkan semangat gotong royong yang kuat. Pada 1970, warga melakukan kerja bakti mengumpulkan batu kali untuk pembangunan jalan desa, meskipun pada masa tersebut warga juga sering terserang penyakit demam.
Tiga tahun kemudian, tepatnya 1973, masyarakat menerima bantuan beras bulgur dari pemerintah di tengah masa paceklik. Saat itu, makanan seperti tiwul menjadi menu utama warga.
Pada 1980–1981, pemerintah memberikan bantuan kambing melalui program Banpres. Namun sayangnya, banyak kambing bantuan tersebut terserang penyakit sehingga banyak yang mati.
Semangat swadaya masyarakat terlihat kembali pada 1984 dengan pembangunan Balai Desa Soka secara gotong royong oleh warga.
Perkembangan Infrastruktur dan Kesehatan
Perkembangan infrastruktur desa mulai terlihat pada dekade 1990-an. Pada 1995, Desa Soka mendapatkan bantuan air bersih dari PDAM. Dua tahun kemudian, tepatnya 1997, listrik akhirnya masuk ke desa tersebut.
Namun pada tahun yang sama, masyarakat menghadapi tantangan ekonomi karena harga cengkeh yang anjlok, sehingga banyak pohon cengkeh ditebang oleh warga.
Dalam bidang pemerintahan desa, 1999 menjadi tonggak penting dengan dilaksanakannya pemilihan kepala desa secara demokratis yang dimenangkan oleh Sakirudin.
Masalah kesehatan juga sempat menjadi perhatian serius. Pada 2000–2001, masyarakat Desa Soka terserang penyakit malaria. Pemerintah kemudian melakukan berbagai upaya seperti penyemprotan rumah untuk penanggulangan penyakit.
Bahkan pada 2001, Desa Soka dijadikan lokasi program Gebrak Malaria oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen sebagai langkah penanganan penyakit tersebut.
Desa Terus Berkembang
Perkembangan desa terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2003, Desa Soka menerima bantuan pengaspalan jalan untuk pertama kalinya. Kemudian 2007, desa mendapatkan bantuan pembelian tanah kas desa.
Pada 2008, program air bersih PAMSIMAS mulai masuk ke desa. Namun pada tahun yang sama, tanaman albasia milik warga banyak terserang ulat yang belum diketahui cara penanggulangannya.
Perjalanan demokrasi desa kembali berlangsung pada 2013, ketika pemilihan kepala desa secara demokratis dimenangkan oleh Fathul Mubin.
Sementara itu, pada 2014, desa menerima program bantuan SPAM untuk pengelolaan air bersih.
Salah satu momen budaya yang kembali dihidupkan adalah pada 2015, ketika Pemerintah Desa Soka untuk pertama kalinya sejak 1982 kembali menggelar tradisi Sedekah Bumi secara serentak dengan hiburan wayang kulit.
Kini, Desa Soka terus berkembang dengan tetap menjaga nilai sejarah, budaya, serta semangat gotong royong yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Sumber: https://soka.kec-poncowarno.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/109/119
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















