KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangtengah di Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang berakar dari perjalanan tokoh-tokoh pada masa Kerajaan Mataram Islam. Desa yang berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 345 meter di atas permukaan laut ini dikenal sebagai desa agraris dengan bentang alam yang subur dan kehidupan masyarakat yang masih kental dengan nilai-nilai tradisi.
Secara administratif, Desa Karangtengah memiliki luas wilayah sekitar 297,504 hektare yang terbagi dalam lima pedukuhan, dengan jumlah penduduk mencapai 2.625 jiwa pada tahun 2022. Sebelum menjadi bagian dari Kecamatan Poncowarno pada tahun 2002, wilayah ini sebelumnya masuk dalam wilayah Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen.
Berdasarkan penuturan sejumlah tokoh sesepuh desa, Karangtengah merupakan hasil penggabungan dari tiga desa lama, yakni Desa Blabak, Desa Andungrowo, dan Desa Karangtalun.
Wilayah Desa Blabak kini menjadi bagian dari RW III Desa Karangtengah. Sementara Desa Andungrowo yang terdiri dari dua pedukuhan, yakni Andungrowo dan Klapagading, kini masuk wilayah RW I dan RW II. Adapun Desa Karangtalun yang mencakup Dukuh Karangtalun dan Kresek, saat ini menjadi bagian dari RW IV Desa Karangtengah.
Sejarah berdirinya tiga desa tersebut berkaitan dengan perjalanan tokoh keluarga bangsawan dan ulama pada masa Kerajaan Mataram Islam. Mereka diyakini datang ke wilayah ini dalam perjalanan dakwah maupun pengembaraan, hingga akhirnya menetap dan membangun permukiman yang berkembang menjadi desa.
Tokoh yang dikenal sebagai pendahulu Desa Blabak adalah Kyai Kencling, yang disebut-sebut sebagai sahabat dari Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa. Hingga kini, nama Kyai Kencling diabadikan sebagai nama Tempat Pemakaman Umum di Dukuh Blabak (RW III).
Sementara itu, sejarah Desa Andungrowo tidak lepas dari sosok Mbah Megantara, seorang bangsawan dari Kerajaan Mataram Yogyakarta yang datang untuk mengembangkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Ia kemudian menetap di Andungrowo hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di sana. Nama Mbah Megantara kini juga diabadikan sebagai nama tempat pemakaman umum di Dukuh Andungrowo.
Adapun wilayah Desa Karangtalun, yang mencakup pedukuhan Karangtalun dan Kresek, memiliki kisah yang tak kalah menarik. Dalam cerita masyarakat setempat, kawasan ini berkaitan dengan perjalanan Dewi Lanjar, tokoh legenda yang diyakini pernah singgah dan menetap di Dukuh Karangtengah.
Lokasi yang dipercaya sebagai tempat persinggahan Dewi Lanjar kini menjadi Balai Desa Karangtengah. Masyarakat setempat mengenangnya sebagai Punden Dukuh Karangtengah, yang hingga kini masih dihormati sebagai bagian dari warisan sejarah dan budaya desa.
Jejak sejarah ini menunjukkan bahwa Desa Karangtengah bukan sekadar wilayah agraris di pegunungan Kebumen, tetapi juga memiliki nilai historis yang berkaitan dengan perjalanan dakwah, budaya, serta dinamika masyarakat pada masa lampau.
Hingga kini, kisah para tokoh pendahulu dan legenda yang berkembang di tengah masyarakat tetap menjadi bagian penting dari identitas dan kearifan lokal Desa Karangtengah.
Sumber: Website Resmi Desa Karangtengah Kecamatan Poncowarno.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















