SEJARAH

Legenda dan Sejarah Desa Kritig Petanahan Kebumen: Jejak Pengungsian Perang hingga Tradisi Gotong Royong yang Mengakar

386
×

Legenda dan Sejarah Desa Kritig Petanahan Kebumen: Jejak Pengungsian Perang hingga Tradisi Gotong Royong yang Mengakar

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kritig, yang berada di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang yang berakar dari masa peperangan antara pasukan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.

Secara historis, cikal bakal Desa Kritig tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Perang Diponegoro yang terjadi sekitar tahun 1825. Dalam catatan sejarah desa, peperangan sengit terjadi di wilayah Banger, yang kini masuk Desa Wajasari, Kecamatan Adimulyo. Dahsyatnya pertempuran membuat banyak prajurit dan warga sipil terpaksa mengungsi demi menyelamatkan diri.

Para pengungsi kemudian berpencar ke berbagai wilayah. Sebagian menuju daerah yang kini dikenal sebagai Desa Podourip, Kecamatan Petanahan. Sementara itu, rombongan lain mengungsi hingga ke wilayah Semingkir—yang berasal dari kata “nyingkir” atau “minggir”—yang saat ini masuk dalam Desa Nampudadi.

Menariknya, banyaknya pengungsi yang datang secara berbondong-bondong digambarkan dengan istilah “gemridig”. Dari sinilah muncul penamaan Desa Kritig, yakni sebagai tempat persinggahan atau jalur yang dilalui para prajurit dan warga yang mengungsi.

Sejarah juga mencatat kisah babad atau trukah di wilayah barat Desa Kritig. Tokoh bernama Huda Baranti dari Mataram disebut sebagai salah satu perintis awal kawasan tersebut. Dalam perjalanannya sekitar tahun 1825, ia sempat terhalang sungai yang meluap sehingga harus menyeberang menggunakan gethek atau perahu kecil. Dari peristiwa itu, wilayah di selatan Desa Kritig kemudian dikenal dengan nama Kalirau, yang kini masuk Desa Nampudadi.

Tradisi yang lahir dari sejarah tersebut masih terjaga hingga kini. Beberapa desa di sekitar Kritig memiliki kebiasaan datang ke Pasar Kritig saat akan menggelar hajatan, dengan harapan tamu yang hadir akan “gemridig” atau berbondong-bondong.

Dalam perjalanan pemerintahan desa, sosok perempuan bernama Ny. Secadipa—istri Ranggadipura dari trah Mataram—dikenal sebagai Kepala Desa pertama Desa Kritig. Ia dipercaya memimpin karena kebijaksanaan dan kemampuannya dalam mengatur masyarakat.

Berikut daftar Kepala Desa Kritig dari masa ke masa:

  1. Secadipa (1825–1890)
  2. Bahureja (1890–1935)
  3. Mulyasentana (1935–1948)
  4. Ihsan (1948–1951)
  5. Ma’muri (1951–1956)
  6. M. Muhroji (1956–1986)
  7. Saliman (1986–2002)
  8. Agus (2002–2007)
  9. Supjan, A.Md (2007–2013)
  10. Pamungkas Mugi Diraharjo (2013–2019)
  11. Agus (2019–sekarang)

Hingga kini, masyarakat Desa Kritig dikenal memiliki semangat gotong royong yang tinggi. Dalam setiap perencanaan pembangunan, warga mengedepankan musyawarah mulai dari tingkat dusun. Pelaksanaan pembangunan pun banyak dilakukan melalui kerja bakti, baik berupa tenaga maupun material.

 

Potensi sumber daya alam seperti pasir, bambu, dan kayu turut mendukung pola pembangunan berbasis swadaya masyarakat. Warga cenderung lebih memilih menyumbangkan tenaga dan bahan dibandingkan uang, sebagai bentuk kebersamaan dan rasa memiliki terhadap desa.

Selain itu, keberadaan lembaga kemasyarakatan seperti LKMD, PKK, RT, RW, Karang Taruna, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) turut memperkuat tata kelola pemerintahan dan pembangunan desa.

Dengan sejarah panjang yang sarat nilai perjuangan serta budaya gotong royong yang tetap terjaga, Desa Kritig menjadi contoh nyata bagaimana warisan masa lalu mampu membentuk karakter masyarakat yang solid dan berdaya.

Sumber: Website resmi Desa Kritig – Pemerintah Desa Kritig https://kritig.kec-petanahan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/128/106


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.