SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Ungaran: Dari Legenda Mbah Buyut Kembang hingga Tradisi yang Tetap Hidup

668
×

Jejak Sejarah Desa Ungaran: Dari Legenda Mbah Buyut Kembang hingga Tradisi yang Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Ungaran di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat nilai budaya, legenda, dan perjuangan para leluhur. Sejarah tersebut kini berhasil didokumentasikan oleh Pemerintah Desa Ungaran sebagai warisan penting bagi generasi mendatang.

Penulisan sejarah desa ini disusun berdasarkan cerita lisan para tokoh masyarakat yang dikumpulkan pada tahun 2022. Pemerintah Desa Ungaran berharap dokumentasi ini dapat menjadi sumber pengetahuan bagi anak cucu agar tidak melupakan asal-usul desanya.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada berbagai pihak yang telah mendukung penyusunan sejarah ini, di antaranya Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, Camat Kutowinangun Anton Purwanto, perangkat desa, serta tokoh masyarakat yang memberikan informasi dan masukan.

Asal-usul Desa Ungaran

Desa Ungaran berada sekitar 2,5 kilometer dari pusat Kecamatan Kutowinangun dan sekitar 15 kilometer dari pusat Kabupaten Kebumen. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 133,53 hektare dan unik karena terbelah oleh Sungai Bedegolan atau Sungai Bedono, yang menghubungkan dua wilayah desa melalui jembatan gantung.

Letaknya yang berada di jalur jalan nasional penghubung antar kota membuat desa ini memiliki mobilitas masyarakat yang cukup tinggi.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sejarah Desa Ungaran bermula sekitar tahun 1550 Masehi. Tokoh sentral dalam sejarah ini adalah Dewi Sekar Wangi, yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Buyut Kembang, seorang perempuan dari Kerajaan Mataram.

Konon, pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mbah Buyut Kembang diutus untuk membuka wilayah hutan di kawasan Bagelen yang kini mencakup wilayah Kebumen dan Purworejo.

Dalam proses membuka hutan, ia menggunakan cara unik dengan mengibaskan jarit hingga memunculkan api yang membakar ilalang. Sambil melakukannya, ia berkata:

“Sing ketiban awu iku wilayahku”
(yang terkena abu menjadi wilayahku).

Abu dari pembakaran ilalang tersebut menyebar terbawa angin dan dipercaya menjadi penanda wilayah yang kemudian dikenal sebagai Desa Ungaran. Nama Ungaran sendiri diyakini berasal dari kata “ngarani”, yang berarti memberi nama pada wilayah tersebut.

Tujuh Dukuh di Desa Ungaran

Saat ini wilayah Desa Ungaran terdiri dari tujuh dukuh, yaitu:

  • Dukuh Srasutan (RW 01)
  • Dukuh Kembaran (RW 02)
  • Dukuh Kunden (RW 03)
  • Dukuh Kaijon (RW 04)
  • Dukuh Kajen (RW 05)
  • Dukuh Japanan (RW 06)
  • Dukuh Kemawuran (RW 07)

Mbah Buyut Kembang kemudian dikenal sebagai sesepuh desa dan dimakamkan di Dukuh Kunden. Hingga kini makamnya masih terawat dan sering diziarahi serta didoakan dalam berbagai kegiatan tahlil masyarakat.

Kisah Para Tokoh Sejarah Desa

Selain Mbah Buyut Kembang, sejumlah tokoh lain juga menjadi bagian dari sejarah Desa Ungaran.

Salah satunya adalah Sidik Iman, seorang rakyat biasa yang memiliki kesaktian aji rawo rontek. Ia pernah mengikuti sayembara di Kerajaan Mataram dan berhasil mengalahkan seekor macan. Namun karena dianggap menantang raja, ia dijatuhi hukuman mati. Konon, jasadnya dipisahkan antara kepala dan tubuh, yang hingga kini diyakini dimakamkan di dua lokasi berbeda.

Tokoh lain adalah Buyut Rembi, yang pernah ditunjuk sebagai lurah sementara di Desa Ungaran.

Ada pula kisah Demang Sarangan, tokoh sakti dari Kajen yang sering beradu kesaktian dengan Demang Kutowinangun. Cerita rakyat menyebutkan bahwa setelah wafat, jenazah Demang Sarangan sempat berubah menjadi batang pisang ketika makamnya dibongkar oleh pihak yang memusuhinya.

Jejak Penyebaran Islam

Sejarah Desa Ungaran juga terkait dengan penyebaran Islam di wilayah Kebumen timur. Hal ini ditandai dengan keberadaan padepokan di Dukuh Japanan yang didirikan oleh seorang ulama bernama Mohammad Khafi dari Yogyakarta.

Padepokan tersebut menjadi pusat dakwah Islam pada masanya. Bahkan pada sekitar tahun 1666, kerajaan memberikan tanah sekitar 10 hektare sebagai tanah keputihan atau tanah bebas pajak untuk mendukung kegiatan dakwah tersebut.

Di lokasi tersebut masih terdapat masjid kuno berkubah tembikar berbentuk pengaron, yang hingga kini menjadi peninggalan sejarah meski kondisinya memerlukan perhatian serius.

Tradisi Leluhur yang Masih Terjaga

Selain sejarah tokoh, masyarakat Desa Ungaran juga masih menjaga berbagai tradisi adat yang diwariskan turun-temurun, di antaranya:

  • Gombrang, kegiatan membersihkan makam leluhur secara gotong royong menjelang Ramadan.
  • Sambatan, tradisi membantu pembangunan rumah warga secara sukarela.
  • Suran, doa bersama untuk leluhur pada malam 1 Suro.
  • Bopongan, tradisi kontribusi dari calon pengantin pria kepada desa.
  • Enthak-enthik atau Metoni, kegiatan makan bersama di masjid atau musala pada bulan Maulid.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi bukti kuat bahwa nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, dan kebersamaan masih hidup di tengah masyarakat Desa Ungaran.

Pemerintah desa berharap sejarah yang telah ditulis ini dapat menjadi pengingat penting bagi generasi muda tentang jati diri desa mereka.

Seperti pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang terkenal dengan semboyan JASMERAH – Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.

Sumber: Website desa ungaran


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.